REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasien Covid-19 yang berada dalam kondisi kritis berisiko tinggi terhadap terjadinya gagal ginjal, tromboemboli vena, dan komplikasi lain terkait pembentukan bekuan darah atau trombus. Oleh karena itu, pasien Covid-19 dengan kondisi kritis dinilai perlu menjalani skrining uji Thromboelastography (TEG).
Uji TEG merupakan metode pemeriksaan darah yang dapat memberikan gambaran mengenai risiko pembekuan darah pada seorang pasien. TEG selama ini tidak digunakan secara luas dalam lingkungan klinis. TEG biasanya digunakan oleh ahli bedah dan ahli anastesi untuk mengevaluasi efisiensi dari pembekuan darah.
"Pandemi Covid-19 ini membuka pintu untuk kolaborasi multidisiplin," ujar Asisten Profesor Bedah di University of Colorado School of Medicine Franklin Wright, seperti dilansir Times Now News.
Studi terbaru yang dilakukan Wright dan timnya mengungkapkan bahwa uji TEG dapat membantu dokter mengidentifikasi pasien Covid-19 mana saja yang memerlukan terapi antikoagulasi secara agresif. Dengan begitu, risiko beragam komplikasi terkait pembentukan bekuan darah yang berbahaya pada pasien Covid-19 bisa dihindari.
Saat ini tim peneliti yang diketuai oleh Wright juga sedang berpartisipasi dalam uji klinis acak. Uji klinis acak ini meneliti sebuah obat yang dapat memecah bekuan darah pada pasien terinfeksi Covid-19.
"Ini merupakan tahap awal dalam perjalanan menemukan terapi untuk mencegah beberapa komplikasi yang datang bersamaan dengan penyakit (Covid-19) ini," ungkap Wrigth.
Obat yang sedang diteliti dalam uji klinis acak ini dikenal sebagai /tissue plasminogen activator (tPA). Obat ini merupakan antikoagulan alami yang sudah disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration (FDA) pada 1996 untuk terapi penyakit-penyakit yang berkaitan dengan gangguan pembekuan darah. Beberapa contoh penyakit tersebut adalah serangan jantung, strok dan emboli paru.
Uji klinis ini akan melakukan penilaian terhadap efikasi dan keamanan penggunaan tPA secara intravena untuk memperbaiki fungsi respirasi. Dalam uji klinis ini juga dinilai efikasi dan keamanan tPA untuk memperbaiki manajemen pasien dengan pembekuan darah agresif.
Wrigth menyimpulkan bahwa studi yang dia lakukan membuktikan bahwa tes pengukuran pembekuan darah secara keseluruhan dokter memiliki peran yang signifikan. Tes ini memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi dan merawat pasien Covid-19 dengan lebih efektif untuk mencegah komplikasi.
"Dan mendorong studi lebih lanjut dalam terapi untuk mencegah bekuan darah pada pasien-pasien ini," tutur Wright.