Selasa 13 Oct 2026 13:32 WIB

Rusia Gempar Kasus Pes Pneumonik, Pakar Ingatkan Indonesia Tetap Harus Waspada

Bakteri Y pestis masih ditemukan pada hewan pengerat liar.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang petugas kesehatan dengan jubah pelindung dan masker (ilustrasi). Pakar mikrobiologi klinik dari UGM, Prof dr Tri Wibawa, mengatakan kewaspadaan akan penyakit pes di Indonesia tetap penting.
Foto: Dok. EPA/MARIE JEANNE MUNYERENKANA
Seorang petugas kesehatan dengan jubah pelindung dan masker (ilustrasi). Pakar mikrobiologi klinik dari UGM, Prof dr Tri Wibawa, mengatakan kewaspadaan akan penyakit pes di Indonesia tetap penting.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan Ri mulai meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk Indonesia menyusul dugaan wabah pes (plague) di Irkutsk, Siberia, Rusia. Kasus ini bermula dari kematian seorang pekerja laboratorium yang disinyalir erat kaitannya dengan paparan bakteri penyebab pes, Y pestis.

Hal itu memunculkan kekhawatiran akan munculnya dugaan wabah pes pneumonik. Pakar mikrobiologi klinik dari UGM, Prof dr Tri Wibawa, mengatakan kewaspadaan akan penyakit pes di Indonesia tetap penting. Pasalnya, bakteri Y pestis masih ditemukan pada hewan pengerat liar yang dapat menjadi perantara penyebaran penyakit tersebut.

Baca Juga

"Dengan demikian, selalu ada potensi untuk muncul penyakit pes pada manusia setiap saat, meskipun sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia," kata Prof Tri dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).

Soal penyakit pes, ia mengatakan penyakit tersebut merupakan penyakit infeksi yang terutama ditularkan melalui gigitan pinjal yang terinfeksi khususnya pinjal pada tikus. Menurut dia, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi, serta melalui droplet yang mengandung bakteri.

Prof Tri menambahkan, terdapat beberapa bentuk manifestasi penyakit pes. Salah satu yang paling serius ialah pneumonic plague atau pes pneumonik, yaitu infeksi yang menyerang jaringan paru-paru. "Jenis ini dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia melalui droplet," kata dia.

Demi mengantisipasi kemungkinan kemunculan penyakit pes, Prof Tri menggarisbawahi akan pentingnya penguatan surveilans secara berkesinambungan terhadap keberadaan bakteri Y pestis pada vektor, terutama tikus. Selain itu, ia juga memberi saran agar pengendalian populasi tikus juga perlu menjadi perhatian karena hewan pengerat tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan manusia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi