Kamis 01 Oct 2026 13:41 WIB

Studi WHO: 12 Persen Kanker Dunia Berawal dari Virus dan Bakteri

lima agen infeksi menyumbang hampir seluruh kanker terkait infeksi di dunia.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi penyuluhan kesehatan untuk mencegah kanker.
Foto: dok SILOAM
Ilustrasi penyuluhan kesehatan untuk mencegah kanker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kanker tidak selalu bermula dari faktor genetik, rokok, pola makan, atau paparan lingkungan. Sebuah studi terbaru menemukan sekitar 2,3 juta kasus kanker baru di dunia pada 2024 berkaitan dengan infeksi virus, bakteri, dan parasit, setara sekitar 12 persen atau hampir satu dari setiap delapan kasus kanker baru.

Temuan tersebut berasal dari International Agency for Research on Cancer atau IARC, badan kanker Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, dan dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Oncology. Penelitian itu menggunakan estimasi kasus kanker 2024 dari IARC Global Cancer Observatory dan menjadi salah satu pemetaan global terbaru mengenai kanker yang dapat diatribusikan pada infeksi.

Baca Juga

Studi tersebut menemukan lima agen infeksi menyumbang hampir seluruh kanker terkait infeksi di dunia. Mereka adalah bakteri Helicobacter pylori, human papillomavirus atau HPV, virus hepatitis B atau HBV, Epstein-Barr virus atau EBV, dan virus hepatitis C atau HCV.

Temuan itu sekaligus memperlihatkan peluang besar dalam pencegahan kanker. Sebagian infeksi penyebab kanker sudah dapat dicegah melalui vaksinasi, skrining, diagnosis dini, serta pengobatan infeksi sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

“Temuan ini menggarisbawahi peran utama yang dapat dimainkan pengendalian infeksi dalam mengurangi beban kanker global,” kata ilmuwan Cancer Surveillance Branch IARC yang juga salah satu penulis penelitian, Harriet Rumgay, sebagaimana diberitakan Euronews pada Selasa (29/9/2026).

Menurut Rumgay, dunia sebenarnya telah mencatat kemajuan dalam vaksinasi dan skrining. Namun kanker yang berkaitan dengan infeksi tetap menjadi tantangan kesehatan global yang besar, terutama karena bebannya tidak terbagi secara merata.

Lebih dari tiga perempat kanker terkait infeksi ditemukan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kesenjangan akses terhadap vaksinasi, pemeriksaan, diagnosis, dan pengobatan membuat masyarakat di negara-negara tersebut menanggung beban yang jauh lebih berat.

Bakteri Lambung Jadi Penyebab Terbesar

Temuan penting datang dari Helicobacter pylori. Bakteri yang hidup di lambung dan dikenal sebagai salah satu penyebab tukak lambung itu menjadi agen infeksi penyumbang kanker terbesar di dunia.

IARC memperkirakan H. pylori berkaitan dengan sekitar 760 ribu kasus kanker baru pada 2024. Sebagian besar berupa kanker lambung.

Jumlah itu sedikit lebih tinggi dibandingkan kanker yang dikaitkan dengan HPV. Virus tersebut menyumbang sekitar 750 ribu kasus kanker baru sepanjang 2024.

HPV paling dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks, tetapi pengaruhnya tidak berhenti di sana. Infeksi tersebut juga dapat menyebabkan kanker anus, vulva, vagina, penis, serta sejumlah kanker kepala dan leher.

Kanker serviks menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai hubungan infeksi dan kanker. IARC menyebut hampir seluruh kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV, sehingga vaksinasi dan skrining menjadi dua senjata utama dalam upaya menekan kasusnya.

Posisi berikutnya ditempati hepatitis B. Virus HBV dikaitkan dengan sekitar 360 ribu kasus kanker pada 2024, yang sebagian besar merupakan kanker hati.

Setelah itu terdapat Epstein-Barr virus dengan sekitar 260 ribu kasus. Virus yang sangat umum pada manusia itu dikaitkan dengan kanker nasofaring, sejumlah limfoma, serta sebagian kanker lambung.

Hepatitis C berada di urutan berikutnya dengan sekitar 160 ribu kasus, mayoritas juga berupa kanker hati. Lima agen tersebut menyumbang hampir seluruh kanker dunia yang berkaitan dengan infeksi.

Virus Epstein-Barr Jadi Perhatian Baru

Salah satu temuan penting penelitian terbaru menyangkut Epstein-Barr virus atau EBV. Virus ini sudah lama diketahui berkaitan dengan beberapa jenis kanker, tetapi bukti ilmiah terbaru memperluas daftar kanker yang dapat dikaitkan dengannya.

Analisis IARC memasukkan bukti baru bahwa EBV juga berkontribusi terhadap sebagian kanker lambung. Dengan perkembangan tersebut, EBV kini menjadi penyebab infeksi kanker terbesar keempat secara global, berada di atas hepatitis C.

Masalahnya, hingga kini belum tersedia vaksin EBV yang telah disetujui untuk penggunaan luas. Kondisi tersebut berbeda dari HPV dan hepatitis B yang sudah memiliki vaksin efektif.

“Analisis terbaru ini menunjukkan bahwa lanskap kanker terkait infeksi terus berkembang seiring kemajuan bukti ilmiah,” kata Gary Clifford, salah satu penulis senior studi tersebut.

Menurut Clifford, investasi dalam alat pencegahan baru dapat menghasilkan dampak besar, khususnya terhadap infeksi seperti EBV yang saat ini belum memiliki vaksin efektif.

Para peneliti juga menyoroti kebutuhan pengembangan vaksin dan strategi pencegahan terhadap H. pylori serta Kaposi sarcoma-associated herpesvirus atau KSHV, yang hingga kini belum memiliki sarana pencegahan sekuat HPV dan hepatitis B.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi