Ahad 10 May 2020 15:02 WIB

Makanan Sehat Jadi Opsi Cegah Depresi Selama Pandemi

Para ahli menyarankan tetap mengonsumsi makanan sehat meski pandemi.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nur Aini
Sayur dan buah, makanan yang Sehat (ilustrasi).
Foto: Republika/Prayogi
Sayur dan buah, makanan yang Sehat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 jelas telah mengubah hidup masyarakat dunia, termasuk kebiasaan makan. Ketidakpastian akibat pandemi dan masa karantina mandiri membuat banyak orang beralih ke makanan instan dan produk olahan.

Kebiasaan itu dipengaruhi oleh perubahan pola belanja serta kemudahan pesan antarmakanan. Banyak orang memprioritaskan makanan dengan umur simpan yang lebih lama. Namun, para ahli menyarankan untuk tetap mengonsumsi makanan sehat.

Baca Juga

Dikutip dari laman Medical Daily, sejumlah penelitian tidak hanya mengungkap manfaat makanan sehat untuk tubuh. Mengonsumsi makanan sehat juga berpotensi mencegah depresi selama menghadapi masa karantina mandiri.

Selain pasien positif Covid-19 yang dapat menderita gangguan pascatrauma dan depresi, para frontliner juga berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Begitu pula masyarakat umum yang mengalami stres selama beraktivitas dari rumah.

Memperhatikan asupan yang dimakan sangat signifikan memengaruhi kesehatan mental dan pikiran. Begitu banyak ahli menganjurkan makan sehat selama pandemi corona karena menjadi cara paling sederhana menekan epidemi depresi yang mungkin terjadi saat lockdown.

Berbagai studi memberi rekomendasi asupan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun dalam menu harian. Opsi menu tersebut dapat menurunkan risiko depresi dan cenderung meningkatkan suasana hati.

Mereka yang melakoni diet Mediterania dianggap relatif lebih aman dari masalah kesehatan mental. Penelitian telah menunjukkan bahwa diet Mediterania adalah jenis diet terbaik yang dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih rendah.

Hal tersebut dikarenakan pilihan makanan yang dianjurkan dalam diet telah terbukti bermanfaat bagi otak. Sementara, diet lain yang terdiri atas makanan kaya karbohidrat, daging merah, dan susu tinggi lemak, memiliki efek sebaliknya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement