Selasa 19 Nov 2019 09:34 WIB

Aneka Herbal yang Bahayakan Kesehatan Pejuang Kanker

Alih-alih menyehatkan, sejumlah herbal justru berbahaya bagi pejuang kanker.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Sejumlah obat herbal justru dapat memperlama penyembuhan luka kulit ketika kenker payudara menyebar.
Foto: healthline
Sejumlah obat herbal justru dapat memperlama penyembuhan luka kulit ketika kenker payudara menyebar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya pasien kanker merasa jenuh dengan terapi pengobatan medis yang dijalani dan 'melirik' pengobatan non medis seperti herbal sebagai terapi tambahan. Meski alami, penggunaan produk herbal sering kali justru merugikan pasien kanker.

Pil dari bawang putih, jahe, dan ginkgo, misalnya, sekilas tampak sebagai produk alami yang aman. Akan tetapi, penggunaan pil-pil dari bahan-bahan alami ini justru dapat menghambat penyembuhan luka pada kulit ketika kanker payudara menyebar.

Baca Juga

Hingga saat ini, banyak ragam produk dan krim herbal yang belum teruji secara ilmiah mengklaim dapat memberi manfaat bagi pasien kanker. Oleh karena itu, pasien kanker sebaiknya menghindari penggunaan produk-produk herbal bila belum didukung oleh bukti ilmiah.

"Dokter juga perlu lebih proaktif menanyakan pasien mereka, mengenai produk apalagi yang mereka gunakan ketika sedang menjalani terapi kanker," jelas dokter bedah dari Champalimaund Cancer Centre di Lisbon, Portugal, Prof Maria Joao Cardoso, seperti dilansir BBC.

Pasien yang tertarik untuk menjalani terapi tambahan non medis juga sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Karena produk herbal yang terkesan aman dapat menganggu terapi medis yang sedang dijalani pasien.

Ada banyak produk herbal yang dapat mengganggu terapi hormon maupun kemoterapi. Beberapa produk juga ada yang bisa memperlama proses pembekuan darah sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka menjadi lebih lama. Beberapa contoh herbal yang dapat memperlama proses pembekuan darah adalah bawang putih, ginkgo, ginseng, kunyit, hingga feverfew (Tanacetum parthenium).

Cardoso mengatakan, cukup banyak pasien kanker maupun pendamping pasien yang berinisiatif untuk mencari terapi tambahan atau terapi alternatif dengan harapan dapat membawa perubahan baik pada kondisi pasien. Akan tetapi, inisiatif yang bermaksud baik ini justru lebih sering membahayakan pasien.

"Tujuan tertinggi dalam pengobatan yang terpenting dan perlu diingat adalah bahwa itu tidak membahayakan," terang Cardoso.

Lebih lanjut, Cancer Research UK juga mengungkapkan bahwa beberapa terapi tambahan non medis dapat menyebabkan terapi medis yang dijalani pasien tidak berjalan baik. Penting pula bagi pasien untuk menghindari beberapa buah dan minuman yang terbuat dari jeruk bali atau jeruk selama terapi kanker dilakukan karena dapat memengaruhi bagaimana obat kanker terpecah di dalam tubuh.

Di sisi lain, ada terapi tambahan yang dapat memberi dampak positif bagi kondisi pasien kanker menurut Cardoso. Beberapa di antaranya adalah yoga, pola pikir mindfulness, dan reiki.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement