Kamis 05 Sep 2019 04:37 WIB

Pria Obesitas Saat Remaja Berisiko Alami Serangan Jantung

Pria obesitas saat remaja berisiko terkena serangan jantung sebelum usia 65 tahun.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi.
Foto: Yibada
Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, STOCKHOLM -- Penelitian baru di Eropa menemukan pria yang memiliki kelebihan indeks massa tubuh (BMI) atau kelebihan berat badan pada usia 18 tahun dikaitkan dengan risiko lebih tinggi menderita serangan jantung sebelum usia 65 tahun. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di Universitas Gothenburg Swedia.

Pria Swedia yang lahir antara 1950 dan 1987 dan mendaftar wajib militer di usia 18 tahun diamati oleh para peneliti. Pada saat pendaftaran, semua pria dengan total 1.668.921 harus menyelesaikan pemeriksaan fisik dan psikologis yang mencakup pengukuran BMI, tekanan darah, IQ, dan kebugaran kardiovaskular serta otot.

Baca Juga

Mereka kemudian dipantau hingga maksimal usia 46 tahun. Temuan ini kemudian dipresentasikan pada Selasa (3/9) di ESC Congress 2019 bersama dengan World Congress of Cardiology.

Bahkan setelah memperhitungkan usia, tahun wajib militer, segala kondisi kesehatan lainnya pada awal penelitian, pendidikan orang tua, tekanan darah, IQ, kekuatan otot dan kebugaran, memiliki kelebihan BMI pada usia 18 tahun dikaitkan dengan risiko lebih tinggi dari serangan jantung sebelum usia 65 tahun. Peningkatan risiko dimulai pada tingkat yang dianggap normal, MBI 20 kg/m2. Kemudian naik secara bertahap, dengan mereka yang didefiniskan sebagai sangat gemuk yakni BMI 35 atau lebih tinggi, Itu menunjukkan kemungkinan serangan jantung yang hampir 3,5 kali lipat lebih tinggi.

Penulis penelitian Maria Aberg mengatakan BMI pada anak muda adalah penanda risiko yang sangat kuat yang bertahan selama hidup. “Studi kami mendukung pemantauan ketat BMI selama masa pubertas dan mencegah obesitas dengan makan sehat serta aktivitas fisik. Sekolah dan orang tua dapat memainkan peran mereka dengan mendorong remaja menghabiskan lebih sedikit waktu luang di depan layar dan menyediakan makanan sehat,” kata Aberg, seperti yang dilansir dari Malay Mail, Rabu (4/9).

Mengenai mengapa risiko mulai meningkat bahkan pada BMI yang sehat, Aberg menjelaskan ini adalah penelitian berbasis populasi yang berarti melaporkan asosiasi, tetapi hanya dapat berspekulasi tentang mekanisme. “Ada kemungkinan perubahan metabolisme lipid, peradangan, dan stres oksidatif berkontribusi terhadap aterosklerosis di BMI lebih dari 20. Selain itu, nilai referensi BMI normal pada remaja akhir mungkin perlu dipertimbangkan kembali,” ujarnya.

Aberg mencatat karena penelitian ini hanya melibatkan laki-laki, hasilnya mungkin tidak berlaku untuk perempuan. Ia menyimpulkan temuan tentang hubungan antara BMI remaja dan serangan jantung di masa dewasa mendukung hasil penelitian sebelumnya untuk gagal jantung.

Karena prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa muda terus meningkat, Aberg mungkin mulai melihat tingkat serangan jantung dan strok yang lebih tinggi di masa depan. “Diperlukan tindakan mendesak oleh orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan untuk menghentikan epidemi obesitas pada anak-anak dan remaja,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement