Rabu 18 Jul 2018 10:20 WIB

Pemanis Buatan dan Pemanis Sintetis, Mana yang Lebih Aman?

Pemanis buatan bisa meningkatkan risiko penyakit.

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari
Pemanis buatan pengganti gula.
Foto: flickr
Pemanis buatan pengganti gula.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang menyukai gula. Penelitian menunjukkan respons tubuh terhadap makanan manis dimulai bahkan sebelum makanan memasuki mulut. Otak memancarkan silinder untuk membangkitkan rangkaian kesenangan dan menghasilkan dopamine, neurotransmitter yang membuat Anda menginginkan gula dan rasa manis.

Hari ini banyak makanan diberi pemanis buatan yang nongula dan ini nyata berdampak buruk pada kesehatan. Pemanis buatan meningkatkan risiko kematian karena jantung, penyakit periodontal, dan menempatkan bayi berisiko alergi serta asma.

Ada pula yang beralih ke alternatif lebih sehat selain gula, disebut non-nutritive sweeteners (NNS) atau pemanis sintetis. The Food and Drug Administration di Amerika mengizinkan pemanis sintetis yang diizinkan adalah acesulfame-K, aspartame, neotame, saccharin, sucralose, dan advantame.

Bentuk alami dari NNS ini juga tersedia di berbagai negara, seperti stevia. Stevia adalah agen antiinflamasi dan antikanker alami.

Peneliti dari University of Pécs di Hungaria, Universitas Freiburg di Jerman, dan Universitas Paris Descartes mengumpulkan semua data yang relevan tentang efek kesehatan dari konsumsi NNS. Tim mengumpulkan data terkait selama periode tiga tahun, termasuk dari situs Ovid MEDLINE, Embase, dan Cochrane Library’s CENTRAL database. Data kemudian disaring dan dikelompokkan bergantung sifat penelitian.

Baca juga: BPOM Paparkan Beda Minuman Sari Buah dan Rasa Buah

Tinjauan peneliti menghasilkan 372 penelitian, dan 15 di antaranya merupakan tinjauan sistematis, 155 uji coba acak terkontrol, 23 uji coba terkontrol non-acak, 57 penelitian kohort, 52 studi kasus kontrol, 28 kasus studi cross-sectional, dan 42 laporan kasus.

Hasil analisis dibagi jangka pendek dan jangka panjang. Tim merekam efek positif dan negatif dari pemanis buatan dan NNS. Hasilnya, NNS tak berdampak signifikan pada nafsu makan dan asupan jangka pendek seseorang.

Hasil jangka panjang ternyata berbeda. Secara khusus peneliti mengevaluasi hubungan antara pemanis buatan dan kanker kandung kemih, kanker saluran kemih. Hasil kesehatan antara penyakit ginjal kronis dan konsumsi NNS juga bervariasi dan tidak ada hubungan dengan peningkatan risiko signifikan.

Efek NNS pada diabetes terutama difokuskan pada kontrol glikemik. Tidak ada penelitian yang menghubungkan pemanis alami non-kalori dengan diabetes, serta penurunan berat badan.

"Ada banyak hasil kesehatan, seperti sakit kepala dalam kaitannya dengan konsumsi NNS, depresi, alzheimer, risiko kelahiran prematur, efek perilaku, kardiovaskular, atau risiko penyakit ginjal kronis yang terpantau hanya dalam beberapa studi saja. Studi lanjutan diperlukan. Tinjauan sistematis juga dapat membantu merumuskan rekomendasi untuk subyek dengan diabetes dan hipertensi dalam menggunakan NNS," tulis studi tersebut, dilansir dari Health News, Rabu (18/7).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement