Senin 21 May 2018 06:10 WIB

Lingkungan Hijau Kurangi Stres pada Anak

Lingkungan tempat tinggal yang berkualitas dapat mempengaruhi hormon stres anak.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Yudha Manggala P Putra
Seorang anak bermain sepeda disamping taman hidroponik di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) dibawah rel kereta api Mangga Besar, Jakarta, Senin (14/5).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Seorang anak bermain sepeda disamping taman hidroponik di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) dibawah rel kereta api Mangga Besar, Jakarta, Senin (14/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ingin anak terhindar dari stres? Tinggal di lingkungan hijau atau asri bisa menjadi jawabannya. Menurut studi terbaru ruang hijau dan udara bersih adalah salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi hormon stres pada anak-anak.

Hormon stres atau hormon kortisol adalah hormon yang diproduksi lebih banyak saat tubuh mengalami stres, baik fisik maupun emosional. Kadar kortisol tinggi dikaitkan dengan peningkatan gula darah, tekanan darah meningkat, nyeri punggung, penipisan tulang, obesitas, hingga insomnia, kecemasan, dan kelelahan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pshychosomatic Medicine mencoba mempelajari hubungan tingkat hormon kortisol anak dengan lingkungan mereka. Hasilnya mengungkapkan, rata-rata di antara 113 anak-anak dari golongan berpenghasilan rendah yang tinggal di lingkungan buruk kadar hormon kortisolnya bisa mencapai 75 persen.

Namun, ketika mereka melihat tingkat kortisol pada 32 anak berpenghasilan rendah yang tinggal di lingkungan berkualitas (lingkungan asri dan nyaman), rata-rata berada di persentil 45.

"Studi kami menunjukkan kualitas lingkungan tempat seorang anak tumbuh adalah salah satu dari beberapa faktor yang dapat memiliki efek perlindungan pada kesehatan mereka," ujar asisten profesor Universitas California, Danielle Roubinov, dikutip The India Express, Ahad (20/5).

Dalam studi ini, para peneliti melakukan perbandingan hormon kortisol dalam sebuah grup berisi siswa taman kanak-kanak. Peneliti juga meminta orang tua dan guru melaporkan kesehatan anak-anak secara keseluruhan dan setiap gangguan yang dapat mencegah mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang diinginkan.

Roubinov menyebutan kualitas lingkungan untuk anak-anak dinilai dengan ukuran tertentu. "Kualitas lingkungan dinilai dengan ukuran yang mengevaluasi akses ke ruang hijau, paparan terhadap racun lingkungan, dan ketersediaan pusat pendidikan anak usia dini dan toko yang menjual makanan sehat," kata Roubinov.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement