Kamis 29 Mar 2018 21:21 WIB

Gangguan Tidur Baru Bernama Orthosomnia

Penggunaan sleep tracker menciptakan gangguan tidur di era digital.

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Indira Rezkisari
Perangkat Sleep Tracker.
Foto: Wikipedia
Perangkat Sleep Tracker.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Demi mendapatkan tidur yang berkualitas, tidak sedikit orang yang menggunakan perangkat sleep tracker. Secara sederhana, perangkat ini membantu orang untuk memantau dan menilai kualitas tidur mereka dalam satu malam. Nantinya, perangkat tersebut akan menginformasikan dan mendiagnosis seseorang, apakah mereka memiliki gangguan tidur atau tidak.

Namun, berdasarkan hasil studi terbaru yang dimuat di Journal of Clinical Sleep Medicine, penggunaan perangkat tersebut justru memicu adanya gangguan tidur, yang biasa disebut Orthosomnia. Dari asal katanya, ''Ortho'' berarti lurus atau sempurna, sedangkan ''Somnia'' memiliki arti tidur. Berdasarkan hasil studi tersebut, penggunaan perangkat yang digunakan saat tidur atau sleep tracker justru menimbulkan kegelisahan baru mengenai kondisi dan kualitas tidur seseorang.

''Penggunaan perangkat sleep tracking memang memberikan kesempatan pada seseorang untuk mengetahui dan memantau pola dan kualitas tidur mereka. Kendati begitu, ada begitu banyak pasien yang mencari bantuan profesional setelah mereka telah mendiagnosis gangguan tidur mereka sendiri. Mereka merasa kekurangan waktu tidur, insomnia, dan tidak memiliki tidur yang berkualitas. Semua diagnosis itu didasarkan pada perangkat sleep tracker,'' tulis hasil penelitian tersebut, seperti dikutip The Independent, Kamis (29/3).

Lantaran begitu mengandalkan perangkat tersebut, maka orang yang menggunakannya merasa yakin, mereka mengalami gangguan tidur. Padahal sebenarnya mereka tidak memiliki gangguan tidur. Imbasnya, orang sangat terobsesi untuk mendapatkan kualitas tidur yang sempurna.

Infografis: Ketindihan Saat Tidur

Dalam studi tersebut, tim peneliti mempelajari kasus-kasus gangguan tidur yang dilaporkan pada tenaga profesional, terutama yang didasarkan pada diagnosis dan informasi dari alat tersebut. Penggunaan sleep tracker memang terus berkembang. Setidaknya 10 persen orang dewasa di Amerika Serikat menggunakan sleep tracker secara rutin.

Penelitian itu pun memberikan beberapa contoh kasus. Pertama, seorang laki-laki dewasa meminta pertolongan medis terkait kualitas tidurnya. Pasalnya, dia merasa kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi. Berdasarkan perangkat sleep tracker, pria tersebut mengalami kekurangan waktu tidur. Namun, hampir semua kasus, rata-rata pengguna sleep tracker meminta bantuan profesional, karena mereka khawatir tidak mendapatkan tidur yang berkualitas.

''Ketimbang mengandalkan tubuh mereka dan apa yang mereka rasakan setiap bangun tidur, orang benar-benar mengandalkan perangkat sleep tracker mereka untuk mendiagnosis apakah tidur mereka berkualitas atau tidak,'' tulis penelitian tersebut.

Berdasarkan National Sleep Foundation, orang dewasa membutuhkan waktu tidur paling tidak tujuh hingga enam jam sehari. Kualitas tidur pun tergantung dari berbagai faktor, termasuk kondisi dari masing-masing individu tersebut. Tapi, jika Anda merasa segar saat bangun pada pagi hari, berarti Anda telah memiliki kualitas tidur yang baik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement