Rabu 14 Mar 2018 19:06 WIB

Dewi Lestari Terbitkan Novel Fisik Aroma Karsa

Sempat dirilis dalam versi cerita bersambung dalam format digital.

Dewi Dee Lestari (tengah).
Foto: Republika/Shelbi Asrianti
Dewi Dee Lestari (tengah).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Dewi Lestari akhirnya menerbitkan novel fisik Aroma Karsa di Jakarta, Rabu (14/3). Sebelumnya penulis yang populer dengan inisial Dee ini sempat merilisnya dalam versi cerita bersambung (cerbung) berformat digital.

Dalam jumpa pers "Dee" menyebut buku ke-12-nya ini sebagai buku paling menantang yang pernah ia tulis. "Secara pribadi, ini buku yang paling menantang buat saya, cukup sulit dan cukup tebal, mencapai 107 ribu kata, jadi sudah masuk kategori novel epik," kata dia.

Menurut Dee, kesulitan utama terkait masalah riset untuk penulisan novel karena ia ingin Aroma Karsa menjadi genre fiksi yang dijahit dengan bukti-bukti riil atau nonfiksi. "Saya percaya bahwa ada ungkapan bahwa fiksi yang baik akan dibaca seperti nonfiksi, jadi kalau ada pembaca yang jadi bertanya-tanya, 'ini beneran ada nggak, sih?' Artinya saya berhasil menjembatani fiksi dan nonfiksi itu," ujar dia.

Penulis yang lebih dulu dikenal sebagai anggota penyanyi trio "Rida Sita Dewi" itu mengaku ingin novelnya memiliki latar belakang fakta-fakta yang kuat, namun juga petualangan imajinatif yang seru. Untuk tujuan itu, Dee melakukan riset penulisan dengan mengambil kelas kursus pembuatan parfum, mengunjungi salah satu industri kosmetik terkenal di Indonesia, bolak-balik ke pusat pembuangan sampah Bantar Gebang di Bekasi, dan mendaki Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Kenapa Lawu, karena cerita novel ini dikaitkan dengan Majapahit, di mana raja terakhirnya juga moksa di Gunung Lawu, jadi semua unsur menjadi satu di sana, selain ada juga unsur mistisnya," tuturnya.

Alur Aroma Karsa menceritakan tentang Raras Prayagung, seorang perempuan pengusaha yang terobsesi mendapatkan "Puspa Karsa" yang konon mampu mengendalikan kehendak, dan hanya bisa diidentifikasi melalui aroma.

Tokoh utama berikutnya adalah Jati Wesi, seorang pria biasa yang tumbuh besar di Bantar Gebang dan sehari-hari bekerja sebagai peracik parfum di pasar. Namun, Jati memiliki keistimewaan indera penciuman yang luar biasa. Suatu kondisi yang dalam istilah kedokteran disebut hiperosmia.

Keistimewaan Jati memikat Raras, yang pada akhirnya merekrutnya sebagai pegawai di perusahaannya dan juga kehidupan pribadi pengusaha itu. Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, makin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu.

Novel Aroma Karsa akan beredar di toko-toko buku seluruh Indonesia secara serentak pada 16 Maret 2018. Namun, sejak awal Maret lalu para pencinta Dee telah melakukan pemesanan awal untuk mendapatkan satu dari 10 ribu eksemplar yang disediakan khusus dengan tanda tangan Dee.

"Ini juga menjadi rekor tanda tangan terbanyak bagi saya, menandatangani satu per satu dari 10 ribu buku pre-order karena saya mau semuanya asli, bukan cap atau print," tambahnya.

Aroma Karsa lebih dahulu hadir dalam versi digital di situs buku digital Bookslife pada pertengahan Januari 2018. Buku ini dirilis secara bersambung sebanyak 18 kali, dua kali seminggu, tiap Senin dan Kamis. 

Keputusan Dee menerbitkan bukunya secara digital dan dalam format bersambung diakui karena faktor personal yang cukup sentimental. Ia teringat bahwa semasa kecil hingga remaja, ia sangat menyukai cerbung alias cerita bersambung.

Penerbit digital Bookslife menyediakan Aroma Karsa dalam bentuk part dengan harga Rp 5.000 per bagian. "Saya ingin memberikan sebuah pengalaman, sebuah kebersamaan, merasakan bagaimana kegemasan dan greget-nya pembaca. Bagi saya Aroma Karsa bukan hanya sebuah produk buku tapi juga sebuah tawaran pengalaman," kata Dee dalam acara peluncuran aplikasi Bookslife, di Jakarta, Jumat, Januari lalu.

Dee sejauh sudah melahirkan beberapa karya populer, antara lain serial Supernova (enam novel), Perahu Kertas (2004), Filosofi Kopi (2006), Rectoverso (2008), Madre (2011), dan Kepingan Supernova (2017).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement