Senin 05 Mar 2018 19:35 WIB

Sakit Haid Terbukti Sama Sakitnya dengan Serangan Jantung

Sakit haid sudah lama dipandang sebagai hal sepele oleh masyarakat.

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Indira Rezkisari
Setiap wanita yang datang bulan perlu memerhatikan cirinya, agar kesehatan tidak terganggu.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Setiap wanita yang datang bulan perlu memerhatikan cirinya, agar kesehatan tidak terganggu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa wanita akan meminta libur atau bekerja dari rumah karena mengalami kram haid. Meski berlangsung sebentar, kram pada haid bisa terus belanjut.

Menurut seorang dokter dari bagian kesehatan reproduksi dari University College London memastikan bahwa kram pada haid bisa sama menyakitkannya dengan serangan jantung. Dalam sebuah artikel Quartz, John Guillebaud mengatakan bahwa masyarakat telah terlalu lama menolak percaya keparahan rasa sakit yang dialami wanita.

"Pria tidak mengerti tentang itu dan belum diberi sentralitas yag seharusnya. Saya percaya bahwa sakit itu harus dijaga, seperti penyakit lain," papar Guillebaud seperti dilansir dari laman Metro.

Bukan hanya dokter laki-laki yang tidak menganggapnya serius, namun hal ini memang membedakan gender. "Di satu sisi, pria tidak menderita sakit dan meremehkan berapa bagaimana sakit yang wanita tanggung. Tapi saya pikir beberapa wanita bisa sedikit tidak simpatik karena mereka turut merasakannya, mereka akan berpikir, 'baiklah saya bisa hidup dengan itu maka pasien saya juga bisa'," sambungnya.

Fakta bahwa dokter membandingkan kejadian bulanan dengan pengalaman menjelang kematian ini membuka makna betapa buruknya masyarakat menjaga kesehatan wanita. Sehingga masalah tersebut perlu mendapat perhatian lebih banyak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement