Rabu 22 Nov 2017 13:59 WIB

Ikapi DKI Gelar Diskusi Keberlanjutan Bisnis Penerbitan Buku

Rep: Syahruddin El-Fikri/ Red: Irwan Kelana
Pendiri dan chairman MarkPlus Hermawan Kartajaya  menjadi salah satu narasumber  Business Talk  tema ‘Keberlanjutan Bisnis Penerbitan Buku: Strategi Bertumbuh di Era Disrupsi’ yang digelar Ikapi DKI di Jakarta, Rabu (22/11).
Foto: Syahruddin El-Fikri/Republika
Pendiri dan chairman MarkPlus Hermawan Kartajaya menjadi salah satu narasumber Business Talk tema ‘Keberlanjutan Bisnis Penerbitan Buku: Strategi Bertumbuh di Era Disrupsi’ yang digelar Ikapi DKI di Jakarta, Rabu (22/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, menggelar acara Business Talk dan Konferensi Kerja Daerah (Konkerda) Tahun 2017. Diskusi Business Talk ini mengangkat tema ‘Keberlanjutan Bisnis Penerbitan Buku: Strategi Bertumbuh di Era Disrupsi’.

Wakil Ketua Ikapi yang membidangi Pelatihan dan Pendidikan, Andreas Haryono, menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan untuk mendorong dunia penerbitan menjadi lebih baik lagi. “Program atau kegiatan ini  mengulas tentang strategi marketing secara komprehensif menurut para ahlinya,” kata Andre, di Hotel Gran Alia, Jakarta, Rabu (22/11).

Ia menambahkan, nara sumber diskusi tersebut adalah  Hermawan Kartajaya (pendiri dan chairman MarkPlus), Duardi Prihandiko (vice president of Digital Marketing Bank Central Asia), Tri Nuraini (PR dan marketing manager Quipper), serta Devi Raissa Rahmawati (pendiri Rabbit Hole).

Ketua Ikapi DKI Jakarta, Hikmat Kurnia mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari solusi terbaik dalam memajukan dunia penerbitan. “Saat ini dunia penerbitan sangat menantang. Dibutuhkan semangat dan strategi yang terbaik untuk menaklukkannya,” kata Hikmat.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Umum PP Ikapi, Rosidayati Rozalina. Menurutnya, tak hanya tantangan dalam dunia marketing, dunia penerbitan juga dihadapkan pada peraturan perundang-undangan.

“Cukup banyak peraturan perundang-undangan yang belum sepenuhnya mendorong dunia penerbitan semakin kuat. Sebaliknya malah ada peraturan perundang-undangan yang dianggap menghambat,” ungkapnya.

Untuk itu, kata Ida, -- sapaan akrab Rosidayati Rozalina --, diskusi tentang dunia marketing dan hal-hal lainnya terkait tantangan dunia penerbitan ini, sangat menarik dan layak untuk diikuti.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement