Jumat 10 Nov 2017 08:44 WIB

TKI Asal Kediri Kenalkan Bakso Beranak ke Malaysia

Kuliner bakso kuah.
Foto: Republika/Prayogi
Kuliner bakso kuah.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Seorang tenaga kerja Indonesia asal Desa Mojoroto, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Pujisyahputra, mendirikan usaha bakso beranak di tempat tinggalnya di Kampung Padang, Balang, Kuala Lumpur, Malaysia.

"Saya termasuk pelopor pembuatan bakso beranak di Kuala Lumpur. Dulunya belum ada yang bikin. Baru sekarang saja terkenal," ujar pria yang sehari-hari merupakan Sub kontraktor di Pintaras Geotechnics Sdn Bhd ketika ditemui di Kuala Lumpur, Jumat (10/11).

Bakso beranak yang diberi merek "Ndoro Bei" tersebut merupakan bakso dengan ukuran besar dan didalamnya ada sejumlah bakso kecil ukuran kerikil, telur puyuh, bakso pedas dan keju. "Jadi sebelum membuka usaha ini saya memang merancang akan memmbuat bakso yang lain dari kawan-kawan. Lain dari yang lain. Kalau bisa dijual sedikit tetapi hasilnya banyak. Akhirnya jawabnya bakso beranak ini," katanya.

Dia mengatakan bakso beranak memang lebih mahal sedikit dibanding bakso biasa karena harganya 5 Ringgit Malaysia per biji dan minimal satu porsi rata-rata harganya 10 Ringgit.

"Pelanggan kami saat ini sudah banyak. Bisa kebutuhan untuk dua hari hingga tiga hari. Satu hari pengiriman ke pelanggan bisa 80 hingga 90 bungkus atau sekitar 240 biji," katanya. Pujisyahputra mengatakan pelanggannya banyak para TKI yang bekerja di pabrik atau kilang dan mereka membelinya dari sejumlah warung yang disuplai dirinya.

Dia bercerita mulai masuk Malaysia pada 1999 kemudian balik lagi ke Indonesia 2001. Lalu kembali lagi ke Malaysia pada 2003 kemudian pulang lagi hingga 2004 lalu 2006 kembali lagi ke Malaysia hingga sekarang.

"Saya sebenarnya sudah malas ke Malaysia. Dua kali ke Malaysia nggak dapat apa-apa. Dulu pertama kali datang mengerjakan proyek di Genting Island. Mengerjakan besi dan kosongan atau tidak mempunyai dokumen per hari diupah 26 Ringgit," kata anggota jamaah Nahdlatul Ulama Malaysia tersebut.

Dia mengatakan waktu itu kerja serba ketakutan karena sering dikejar-kejar petugas kemudian pada 2006 baru memiliki "permit" atau izin kerja. Dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki Pujisyahputra saat ini sudah menjadi sub kontraktor dan memiliki mobil namun dirinya bertekad membuka usaha sendiri karena menurut pandangannya konstruksi di Malaysia sudah mulai menurun.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement