Selasa 24 Oct 2017 13:03 WIB

Wisata Budaya Perkampungan Jawa di Omah Kecebong

Rep: Rahmat Sulistio/ Red: Indira Rezkisari
Omah Kecebong
Foto: Republika/Rahmat Sulistio
Omah Kecebong

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Omah Kecebong. Dari namanya saja sudah menggelitik rasa penasaran, membawa pikiran melayang ke binatang katak. Memang benar ketika memasuki komplek Omah Kecebong pengunjung akan melihat beberapa  patung katak yang sedang menyemburkan air dari mulutnya.

Sebenarnya nama Omah Kecebong bukan karena di sana banyak katak. Tapi lokasi Omah Kecebong di wilayah Desa Sendari, Cebongan, Sleman, memberi inspirasi nama.

Wisatawan akan mudah menemukan lokasi Omah Kecebong, karena letaknya tidak jauh dari pusat kota Yogyakarta. Yakni sekitar 7 km dari Stasiun Tugu dan sekitar 17 km dari Bandara Adisucipto, atau tidak jauh dari terminal  Bus Jombor.

Omah Kecebong berdiri di tanah seluas 1 hektare, Hasan S Prayogo, pemilik Omah Kecebong menuturkan ide membuat desa wisata tersebut. "Saya ingin memiliki tempat dengan  konsep yang berbeda dari tempat wisata  lain, yang lengkap , atau one stop place untuk banyak kegiatan, pengunjung dapat menikmati alam, budaya, dan kuliner dalam satu tempat. Selain itu saya juga ingin memberikan contoh kepada masyarkat sekitar dengan pemanfaatan potensi wisata yang ada dapat membantu meningkatkan pendapatan warga sekitar, saya menyewa gerobak sapi kepada warga, yang digunakan untuk menghantar para tamu melihat-lihat alam desa dan aktivitas warga sekitar."

Omah Kecebong menawarkan wisata budaya untuk segala umur mulai dari anak-anak sampai dengan lansia. Di sana  pengunjung dapat mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, berkeliling desa dengan mengendarai gerobak sapi selama 45 menit, permainan tradisional masa kana-kanak pun dihadirkan seperti permainan tong-tong bolong hingga engrang. Wisatawan juga akan diajarkan bagaimana cara membatik, membajak dan menanam padi di sawah, sampai membuat wayang suket yang terbuat dari rumput alang-alang.  

Kemudian, wisata kuliner, dari mulai jajanan tradisional seperti, sawut sejenis ketela yang diparut dan dikukus kemudian ditaburi kelapa muda. Ada juga kue lupis, kue getuk, ketan hitam dan gendar. Bila perut masih lapar ada masakan tradisional, salah satunya tumis lompong yaitu dari sejenis tanaman keladi. “Saya memperkenalkan masakan dan jajan tradisional, saya lebih suka  dengan menyebut masakan dan jajan ndeso,” tutur Hasan,

Keunikan Omah Kecebong sudah mulai terlihat dari  jarak 200 meter  menuju gerbang komplek. Bentuk bangunan rumah Jawa lawas dengan beberapa pendopo membuat siapa saja yang berkunjung ingin berlama-lama bersantai dan melihat-lihat seluruh bangunan.  

Omah Kecebong memiliki guest house sebanyak sembilan buah. Dua diantaranya berukuran besardapat diisi sekitar 10 orang. Bentuk guest house seperti miniatur rumah Jawa dengan bahan material bangunan dari kayu jati, memberi kesan unik dan lawas. Ada juga bangunan rumah seluruhnya dari bambu, rumah-rumah tersebut diberi nama Omah Antik, Omah Gladak, Omah Bambu, Omah Jinem, Omah Lawas.

Harga Guest House bisa disewa mulai dari harga Rp 650 ribu sampai Rp 1,25 juta per malam. Harga makanan mulai dari Rp 18 ribu sampai Rp 108 ribu. Jika ingin lebih hemat pengunjung bisa memilih harga paket makanan lengkap dari mulai minuman sampai dengan menu utama harga per orang mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu tersedia juga paket prasmanan untuk 10 orang atau lebih.

Ipung wisatawan asal Singkawang, Kalimatantan Barat, yang sudah bermukim di daerah Godean Yogyakarta sering berkunjung. “Kebetulan adik saya baru datang dari Singkawang, jadi saya bawa kemari, karena tempatnya asri dan nyaman. Saya hari ini memesan nasi bakar, dan ayam gorang, juga tumis lompong,” tuturnya.

Eny wisatawan asal Solo bersama teman-temannya juga senang menikmati setiap sudut bangunan. ”Saya kalau ke sini selalu membawa teman-teman, saya menyukai tempatnya yang nyaman dan asri."

Wisatawan yang datang tidak saja dari lokal, melainkan juga dari luar negeri mereka berasal dari Eropa diantaranya Jerman, Prancis atau wisatawan Asia dari Filipina. Mereka biasanya menginap di guest house selama dua sampai tiga hari.

Dian Kurnia Dewi pemilik Private Tour Family selalu membawa tamu-tamu dari luar negeri. “Saya biasanya membawa tamu-tamu luar negeri, mereka tahu tempat ini dari mulut ke mulut, atau dari video yang diunggah di media sosial, mereka yang pernah saya ajak ke sini pasti menceritakannya ke teman yang lain, dan mereka pasti menghubungi saya untuk minta diantar ke tempat ini," katanya.

Ketika senja mulai datang, suasa Omah Kecebong memang begitu membawa kedamaian. Pengunjung bisa merasakan suasana perkampungan tempo dulu, suara jangkrik dan katak saling bersahutan, dengan pencahayaan lampu yang temparam. Suasana serasa tenang, seakan tidak membiarkan pengunjung pergi meninggalkan desa tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement