REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Ikan pais. Kelaponyo mudo. Dibungkus daun talas rapih-rapih, diikek tali meisyang. Penggalan lagu berjudul "Ikan Pais" tersebut menggambarkan salah satu kuliner khas Bengkulu. Menu ikan pais merupakan makanan sehari-hari yang disantap penduduk di provinsi tersebut.
Sejarawan Bengkulu Ade Hapriwijaya menjelaskan, ikan pais terbuat dari kombinasi ikan dengan bumbu-bumbu dan kelapa muda. Setelahnya, ikan dibungkus dengan daun talas antara enam sampai tujuh lapis. "Setelah ikan dibungkus, ditutup lagi dengan daun pisang. Baru setelah itu dikukus tiga jam kemudian diangkat," kata pria kelahiran Curup, 5 Oktober 1966 itu.
Konon, pepes gurih berbahan dasar ikan gebu dan ikan buli itu digemari Sukarno dan Fatmawati. Pada lagu, kenikmatannya yang khas dideskripsikan sebagai lemak nian alias sangat sedap.
Bukan hanya ikan pais, Bengkulu juga memiliki menu autentik bagar hiu. Terlepas dari kontroversi soal boleh tidaknya menyantap hiu, menu gulai berbahan dasar anakan ikan hiu ini sangat digemari warga Bengkulu.
Kuah bagar hiu terbuat dari kelapa yang disangrai dan menjadi makanan khas saat berbuka puasa. Ade menginformasikan, bagar hiu juga disantap bersama nasi santan di sejumlah acara adat. "Penganan khas lain ada lempuk atau dodol durian, cucur pandan, kue perut punai, air sepede atau air jahe. Selain itu, ada kuliner khas yang sekarang sudah jarang dijumpai, yaitu menu ikan selengek," kata Ade.
Sejumlah penganan tersebut dengan mudah dijumpai sepanjang jalan, juga apabila pelancong hendak membawanya sebagai oleh-oleh. Termasuk suvenir kerajinan Kulit Lantung, yang dirupakan menjadi miniatur bangunan Tabot sebagai ikon Bengkulu, lukisan, dan hiasan lain.