Kamis 09 Mar 2017 14:02 WIB

WR Supratman Berjuang dengan Pena dan Biola

Wage Rudolf Supratman
Foto: ulinulin.com
Wage Rudolf Supratman

Oleh: Selamat Ginting, Wartawan Senior Republika

WR Supratman menjadi jurnalis di koran Kaoem Moeda, kemudian di koran Sinpo. Di situlah ia mulai aktif terlibat dalam pergerakan nasional di Jakarta.

Terik panas yang menyengat di Surabaya, tak menyurutkan langkah untuk menyusuri jejak pahlawan bangsa. Tak terasa langkah kaki sampai di Jalan Kenjeran, Surabaya Timur. Ada sebuah bangunan pemakaman yang di dalamnya banyak ditumbuhi pohon kamboja.

Ada beberapa angkutan kota yang berhenti di depan pemakaman sehingga pandangan mata terhalang. Setelah angkutan kota bergerak, barulah terlihat tulisan. “WR Supratman, Pencipta Lagu Kemerdekaan Indonesia Raya.”

Ya, di situ terbaring seorang pahlawan bangsa. Seorang komposer yang lagunya "Indonesia Raya", diputuskan sebagai lagu kebangsaan. Dialah Wage Rudolf Supratman, yang makamnya diresmikan pada 18 Mei 2003.

Di dalam kompleks pemakaman, berdiri patung WR Supratman yang mengenakan kacamata, sedang memainkan biola kesayangannya. Di depan patung setinggi 2,5 meter itu, terdapat tiang bendera. Kemudian, di belakangnya ada prasasti bertuliskan bait lagu Indonesia Raya.

Sedangkan di bagian kanan, terdapat bangunan berbentuk joglo. Di situ jasad WR Supratman disemayamkan. Nisannya berbentuk siluet biola pada bagian tengahnya. Dan pada makam tersebut juga terdapat potongan not balok dan syair lagu “Indonesia tanah airku, Indonesia Tanah jang mulja, Indonesia tanah jang sutji”.

Peran Wage memang tak bisa diremehkan dalam perjuangan bangsa ini untuk meraih kemerdekaan. Begitu banyak kiprahnya sebagai komponis dan sebagai wartawan muda yang turut mendorong kemerdekaan. Sayang, ia tak sempat menjadi saksi kemerdekaan republik ini. Ia mati muda, dalam usia 35 tahun.

Inilah pesan terakhirnya sebelum meninggal, “Nasibkoe soedah begini, inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal, saja ichlas. Saja toch soedah beramal, berdjoang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti Merdeka.”

Di sisi kiri pemakaman, terdapat prasasti yang berisi hikayat sejarah WR Supratman. Dalam prasasti tersebut, diceritakan bagaimana kisah sang violis tersebut. Tertulis: sang komponis besar, Wage Rudolf Supratman dilahirkan di Jatinegara, Jakarta, pada 9 Maret 1903.

Pada 1914, di bawah asuhan kakak iparnya, WM Van Eldik, ia pindah ke Makassar dan belajar gitar dan biola di kota itu. WM Van Eldik adalah suami dari kakak WR Supratman yang bernama Roekijem. Lima tahun kemudian, pada 1919, WR Supratman bersekolah di sekolah guru kemudian diangkat menjadi guru.

Minatnya dalam bermusik tak lantas berhenti, namun terus berlanjut dan bahkan sampai membentuk band bernama Black and White yang beraliran jazz. Band itu bertahan sampai 1924. Pada tahun yang sama, Wage pindah ke Surabaya, menjadi jurnalis di koran Kaoem Moeda. Kemudian pada 1926, WR Supratman yang menjadi jurnalis di koran Sin Po mulai aktif terlibat dalam pergerakan nasional di Jakarta.

Ketika memublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan “lagu kebangsaan” di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh koran Sin Po.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement