REPUBLIKA.CO.ID, Berlin pernah dibelah menjadi bagian timur dan barat oleh tembok beton tebal yang dikenal dengan nama Tembok Berlin. Tembok sepanjang 155 kilo meter itu juga dikenal dengan tembok kematian karena di sisi Berlin timur tidak ada orang yang boleh mendekatinya. Terdapat lampu sorot sepanjang malam, anjing penjaga, dan tentara yang siap menembak warga Berlin timur yang mencoba kabur.
Ketika Tembok Berlin sukses menahan warga untuk menyeberang, hal itu ternyata tidak berlaku untuk para kelinci. Hewan liar itu bebas menggali lubang di bawah tembok dan menyeberang dari timur ke barat. Penduduk Berlin di kedua sisi tembok menganggap kelinci sebagai pengingat kebebasan.
Ketika Tembok Berlin diruntuhkan pada 1990, populasi kelinci mulai menghilang ke taman, semak-semak, dan kebun. Hampir semua kelinci bermigrasi ke barat dan hanya tersisa sekitar 10 koloni kelinci liar. Sementara di timur hanya ada satu koloni.
(baca: Kolam Olimpiade Berubah Hijau, Amankah untuk Perenang?)
Dalam rangka memperingati kelinci-kelinci itu, pada 1999 seorang seniman Berlin Karla Sachse menanam 120 siluet kelinci berbahan kuningan di aspal di area Chausseestrasse, Berlin. Proyek itu disebut Kaninchenfeld atau lapangan kelinci dalam bahasa Jerman. Lokasi benda seni itu diletakkan di bekas perlintasan Berlin Timur dan Barat.
Sayangnya, seperti diberitakan oleh Amusing Planet pada Selasa (9/8) populasi karya seni dari kuningan itu juga terus berkurang. Sebagian besar kelinci itu menghilang karena tertimpa aspal baru. Beberapa metode rekonstruksi yang ceroboh juga membuat karya seni itu rusak. Sulit dikatakan berapa yang masih tersisa saat ini, terlebih tak banyak masyarakat yang peduli untuk menyelamatkannya.