Senin 14 Mar 2016 12:33 WIB

Ini Cara Cegah Anak Jadi Haters di Medsos

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Media sosial
Foto: ist
Media sosial

REPUBLIKA.CO.ID, Psikolog anak dan remaja dari Yayasan Pulih, Ika Putri Dewi, mengatakan bullying itu adalah situasi yang bisa terjadi ketika salah satu individu merasa berhak mengusai orang lain, mengintimidasi orang lain.

Anak yang menjaid korban bullying akan menunjukkan perubahan perilaku yang cukup drastis. Mengatasinya, orang tua bisa menanyakan kepada anak apa yang terjadi. Katakan bahwa ayah atau ibu melihat perubahan yang terjadi pada diri anak, lakukan pendekatan, tanyakan ada apa, mengapa anak berubah. Atau bisa juga tanyakan pada teman-teman anak.

Jika bullying terjadi di media sosial, justru lebih gampang, orang tua bisa mengecek. Coba telusuri apa yang terjadi pada anak. Setelah memastikan yang terjadi, ajak anak bicara. Kemudian naikkan harga dirinya. Anak yang menjadi korban bullying harga dirinya biasanya dirusak oleh pelaku.

“Berikan rasa aman, naikkan harga dirinya. Ini tergantung kasusnya apa. Kalau anak bilang semua orang tahu aku begini karena medsos. Orang tua bisa yakinkan anak, memang itu terpampang di semua orang, namun pada kenyataannya mereka bergaul dengan kamu, mereka tahu kamu kaya apa.

Mengamankan harga dirinya,” ujarnya,

Selain itu, ajarkan anak menghadapi pelaku bullying. Bisa dengan langsung memblok akun pelaku bullying, bisa juga dengan menyampaikan pesan yang personal di kantong surat medsos. “Saya sudah sangat terganggu dengan yang kamu lakukan pada saya,” ujar Ika menirukan pesan pribadi itu.

Kalau pelaku itu minta maaf pada anak, lanjutnya, itu positif. Kalau makin dibully, blok saja. “Medsos lebih gampang, bagaimana memulihkan atau merekonsiliasi diblok saja atau abaikan. Tapi kalau sekolah kan harus ada keterlibatan guru dan teman lain,” tambahnya.

Menurutnya, pelaku bullying di dunia maya atau nyata umumnya memiliki masalah dengan cara menghargai orang lain. Tak sedikit pula yang sesungguhnya juga korban dari bullying orang lain, misalnya orang tuanya.

“Tapi sejauh kita sebagai orang tua bisa tanamkan prinsip menghargai pada semua orang, orang tua juga tanamkan menghargai anak, anak tidak akan menjadi haters, atau membully orang lain,” tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement