Selasa 19 Jan 2016 21:53 WIB

Sensasi Berkano Diikuti Gerombolan Ikan Hiu

Rep: Gilang Akbar Prambadi/ Red: Didi Purwadi
Aktivitas memberi makan anak ikan hiu di perairan laut Taka Bonerate, Pulau Tinabo Besar, Sulawesi Selatan.
Foto: Republika/Gilang Akbar Prambadi
Aktivitas memberi makan anak ikan hiu di perairan laut Taka Bonerate, Pulau Tinabo Besar, Sulawesi Selatan.

Suka cita berwisata bahari di Kepulauan Taka Bonerate, tepatnya di Pulau Tinabo Besar semakin syahdu saja rasanya. Setelah mencicipi ketegangan ber-diving, saya juga bisa merasakan wisata air lainnya yang jarang di tempat lain, yakni kanoing.

Kanoing alias bermain kano di permukaan laut pantai pasir puith dengan air yang amat jernih mungkin juga ada di destinasi lain. Saya jadi teringat dengan ucapan pengamat wisata bahari Sulawesi Ma’ruf. Ia sempat mengatakan jangan dulu semangat melihat Raja Ampat sebelum menemukan sensasi unik di Taka Bonerate.

Satu keunikan yang ia sempat sesumbarkan dalam kalimat di atas akhirnya saya coba juga. Berkano di Taka Bonerate bukan soal hanya keliling pantai dengan kano, tapi lebih dari itu.

Ada hiu-hiu jenis sirip hitam yang berkeliaran mengikuti kemanapun kano dikayuh. Pengalaman ‘tak masuk akal’ ini benar kami alami di pantai Tinabo Besar.

Terdapat dua buah kano yang disiapkan pengelola. Ukuran panjangnya dua meter dengan satu lubang. Saya sempat mencoba sensasi menantang maut ini. Saat mulai melaju dari tempat kano bersandar, hiu-hiu ini mulai mengikuti kemanapun saya pergi. Entah apa yang mereka cari, karena saya pun sebenarnya tak memberikan mereka umpan.

Tapi anak-anak hiu sebesar betis orang dewasa ini cukup ramah. Selama tidak ada darah yang mengucur dari tubuh saya, mereka tidak akan macam-macam.

Sesekali tercebur karena kano terbalik memang biasa bagi pemula, tapi tidak untuk penakut. Tercebur di sini, kita akan langsung berhadapan dengan ratusan anak-anak hiu. Saya dan beberapa rekan yang sempat tercebur merasa geli setengah bergetar ketika anak-anak hiu menabraki tiap bagian dari tubuh kami.

“Intinya jangan terluka atau mengeluarukan darah, olehnya wanita haids dilarang keras berenang di perairan sini, kalau yang tidak ya tenang saja,” ujar Kepala Staf Satu Taka Bonerate Akhmadi.

Perhatian Pemerintah

Meski berada dalam naungan Kementerian Kehutanan, Taka Bonerate yang memiliki nilai pariwisata tinggi ini belum mendapat dukungan penuh. Hal ini tercermin dari minimnya sarana yang semakin diperparah dengan sedikitnya promosi.

Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Jusman, berharap Kementerian Pariwisata bisa melirik potensi yang wilayah ini miliki. “Kita minta wilayah ini jangan disia-siakan, sebelum banyak yang malah hancur karena minimnya pengawasan,” kata Jusman.

Jusman tak asal bicara, banyak kapal-kapal tak berizin yang masuk ke dalam wilayah Taka Bonerate untuk mengeruk kekayaan di dalamnya. Dari rentang 2010 sampai 2014 saja, ratusan kasus pencurian kekayaan laut ditemukan di sini. Bahkan, tak jarang kasus pengeboman karang juga masih terjadi sampai tahun 2015 ini.

“Makanya kita giat melakukan operasi gabungan bersama aparat-aparat terkait. Tapi ya namanya operasi, sekali sapu dapat, tapi ketika tidak ada operasi, banyak juga yang lolos,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Rombongan Staf Pelni Didik mengatakan Taka Bonerate masuk ke dalam rencana besar penetapan destinasi wisata bahari di Sulawesi. Ia mengatakan, tujuan Pelni mendatangi Taka Bonerate pun sebenarnya ialah untuk survey. Survey ini dilakukan untuk mempelajari rute terbaik bagi Pelni agar dapat melayarkan kapal hingga ke Tinabo Besar.

“Kami akan bantu Taka Bonerate dengan membuat akses khusus dari pusat-pusat pelabuhan agar bisa langsung menuju ke wilayah ini,” ujarnya.

Bahkan dia mengatakan, Pelni berencana membuat hotel apung di perairan Taka Bonerate. Model yang akan digunakan dalam hotel ini ialah menyediakan sebuah kapal besar yang berfungsi sebagai tempat menginap bagi wisatawan.

Gagasan ini, kata dia, dapat langsung menjadi jawaban bagi minimnya sarana Taka Bonerate dari mulai transportasi, penginapan, hingga air bersih. Pasalnya, semua kebutuhan tersebut sudah satu paket terdapat di kapal yang Pelni sandarkan di wilayah Taka Bonerate.

“Kami kira bulan Juni nanti rencana ini sudah mulai dijalankan, karena peminat Taka Bonerate juga ternyata luas, bahkan banyak dari mancanegara,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement