Kamis 10 Sep 2015 01:00 WIB

Perjalanan tak Terlupakan ke San Siro dan Olimpico

Duomo di Milano terlihat di ujung.
Foto: Republika/Erik PP
Duomo di Milano terlihat di ujung.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra, pemilik blog elangkesepian.wordpress.com

Belum lama ini, saya mendapat kesempatan untuk meliput Milan Expo 2015. Selama di sana, saya bertugas untuk meliput rangkaian upacara 17 Agustus di Paviliun Indonesia. Ketika ada waktu luang, saya bersama rekan wartawan lain berkeliling Milan.

Tentu sangat menyenangkan bisa menjelajahi sudut kota mode tersebut. Berikut catatan singkatnya:

Duomo

Banyak tujuan yang ingin saya kunjungi. Tentu saja landmark Milan, satu per satu saya kunjungi. Kesempatan pertama, rombongan mengunjungi Duomo. Duomo ini sudah menjadi ikon Milan. Di sini, kita bisa dengan mudah menemukan bangunan bersejarah khas Eropa. Kami berkunjung ke Solo Inter Store terlebih dulu ketika turun dari mobil. Lokasi tokonya terletak persis di depan toko resmi Ferrari.

Di sini, seorang rekan membeli scarf Inter Milan seharga 10 euro. Di toko resmi klub milik pengusaha Indonesia Erick Thohir, ini, beberapa rekan media tampak berfoto-foto dengan background foto-foto pemain Nerazzurri dari masa ke masa.

Kemudian, tentu saja kami berjalan kaki untuk melihat Duomo di Milano. Salah satu katredal terbesar di dunia yang memiliki gaya arsitektur gothik dan unik. Saking besarnya, katredal ini katanya sanggup menampung 40 ribu orang. Wisatawan dari berbagai mancanegara berkumpul di pelataran katedral. Tentu saja mereka berfoto ria, baik sendiri maupun bersama pasangan atau rombongannya.

Tapi, perlu hati-hati ketika berjalan sendiri di sini. Pasalnya, banyak imigran asal Afrika yang tiba-tiba menyapa dan menawarkan gelang warna-warni. Ketika kita menyodorkan tangan, otomatis gelang itu akan dipakaian ke tangan kita. Apa yang terjadi?

Tentu saja kemudian mereka meminta uang. Polisi memang ada di sekitar situ, Duomonamun hal itu dibiarkan saja. Biasanya sejumlah turis asing yang menjadi incaran para imigran yang berusaha mencari uang dengan cara ‘legal’ tersebut. Rekan saya, ada yang menjadi korban. Entah mengapa, dia mau-mau saja ketika gelang tersebut dipakaikan ke tangannya.

Tidak hilang akal, rekan saya tersebut mengaku tidak membawa uang euro. Dia hanya menyodorkan selembar uang Rp 2.000. “This is equal with 2 euro,” katanya sambil mengibas-ibaskan uang yang setara 12 sen euro tersebut. Satu euro saat ini setara dengan Rp 15,880.

Entah karena percaya atau tidak tahu nilai tukar rupiah, sang imigran tersebut mau-mau saja menerima uang tersebut. Dua rekan kami tertawa cekikikan menceritakan kepada rombongan atas kejadian yang dialaminya tadi, heee.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement