Ahad 21 Jun 2015 00:35 WIB

11 Rahasia Sukses Novel “Ayat-Ayat Cinta”, Sarat Pesan Mencerahkan (bagian 1)

 Penulis, Habiburrahman El Shirazy saat membacakan salah satu penggalan pada bedah buku Api Tauhid di Islamic Book Fair, Landmark, Kota Bandung, Sabtu (6/6).  (foto : Septianjar Muharam)
Penulis, Habiburrahman El Shirazy saat membacakan salah satu penggalan pada bedah buku Api Tauhid di Islamic Book Fair, Landmark, Kota Bandung, Sabtu (6/6). (foto : Septianjar Muharam)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Paling tidak  ada 11 rahasia mengapa novel “Ayat-Ayat Cinta” (AAC)  yang ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy dan diterbitkan oleh Republika Penerbit  sejak lebih 10 tahun silam menjadi salah satu buku terlaris.Hingga kini novel yang ditulis oleh alumnus Al-Azhar University Kairo, Mesir itu masih terus diburu orang.

Kunci sukses pertama novel AAC adalah orisinalitas. Kedua, detil yang menggoda. Ketiga, konflik yang kuat. Keempat, unsur jenaka yang menghibur.  Kelima, penuh kejutan. Keenam, penyelesaian yang melegakan.

Kunci sukses ketujuh novel AAC  adalah sarat  pesan yang mencerahkan. Sebuah novel yang baik harus mempunyai pesan yang dapat memberikan pencerahan bagi para pembacanya. Jalinan cerita dalam sebuah novel hanyalah kendaraan untuk membawa pesan. Buat apa novel yang membuat orang menangis sesenggukan, tapi setelah itu tidak ada pesan apa pun yang ia dapatkan, tidak ada perasaan indah apa pun yang ia rasakan, tidak ada pencerahan batin yang ia raih.

Novel AAC  sangat sarat dengan berbagai pesan. Misalnya, pentingnya menjaga aurat bagi seorang wanita. Contohnya saat tokoh Fahri membandingkan perempuan Muslimah bercadar dan perempuan bule berpakaian superketat di metro:

‘’Aku melihat pemandangan yang sangat kontras. Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya tertutup rapat. Tak ada bagian dari tubuhnya yang membuat jantung lelaki berdesir. Yang satunya memakai pakaian sangat ketat, semua lekak-lekuk tubuhnya kelihatan, ditambah basah keringatnya bule itu nyaris seperti telanjang.’’ (hlm 41)

Akhlak mulia seorang lelaki Muslim yang tidak mau berjabat tangan,  berjalan berduaan ataupun dalam keadaan berduaan dengan wanita lain yang bukan muhrimnya. Fahri menolak ajakan Maria untuk berdansa saat makan malam bersama dengan keluarga orang tua Maria (penganut Kristen Koptik).

‘’Maafkan aku, Maria. Maksudku aku tidak mungkin bisa melakukannya. Ajaran Al-Quran dan Sunnah melarang aku bersentuhan dengan perempuan lain kecuali dia istri atau mahramku…. Dalam masalah seperti ini aku tidak boleh membuka ruang keraguan yang membuat setan masuk ke dalam aliran darah.’’ (hlm 133)

Fahri memprotes keras Maria ketika gadis tersebut berusaha mengejar langkahnya dan berjalan sejajar dengannya. ‘’Maria, please, hormatilah aku. Jangan bersikap seperti itu!’’ (hlm 155)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement