Rabu 20 May 2015 23:38 WIB

Kontes Ayam Ketawa, Lestarikan Unggas Asli Indonesia

Rep: Andi Nurroni/ Red: Esthi Maharani
Ayam ketawa
Ayam ketawa

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Ayam ketawa, jenis ayam kampung asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, pernah terancam punah, sehingga dikategorikan unggas yang dilindungi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ayam bersuara unik tersebut sudah banyak lagi dijumpai di tengah masyarakat. Tidak hanya di “kampung halamannya”, di Sulawesi Selatan, ayam ketawa juga kini bisa ditemukan di banyak darah di Indonesia.

Dahulu, ayam ketawa, atau manu gaga dalam bahasa lokal, konon hanya dipelihara para bangsawan Bugis sebagai penghias pekarangan rumah mereka. Ayam ketawa yang bagus, tak jarang dihadiahkan sebagai cenderamata di kalangan para bangsawan. Kini, ayam ketawa bebas dipelihara siapa saja.

Tak hanya sebagai penghias pekarangan rumah, pamor dan gengsi ayam ketawa naik seiring dengan populernya ajang kontes ayam ketawa di Indonesia. Selain di Sulawesi Selatan, ayam banyak digemari di Jawa Timur. Ahad (17/5), kotes ayam ketawa memperebutkan Piala Wali Kota Surabaya yang ke-4 di gelar di Taman Flora, Surabaya.

Di arena seluas 5x5 meter itu, ayam-ayam ketawa jenis pejantan ditempatkan bertengger di atas tiang-tiang yang sudah diberi nomor. Keriuhan segera menguasai arena pertandingan setiap babak lomba dimulai. Para pemilik ayam dari luar ring menyerukan berbagai teriakan untuk membuat ayamnya berbunyi dengan indah. Sementara, dewan juri berjejer di sudut arena, menilai satu demi satu ayam-ayam yang bersaut-sautan tak henti.

Ketua Persatuan Penggemar dan Pelestari Ayam Ketawa Seluruh Indonesia (P3AKSI) Rusli Parakkasi menjelaskan, kontes ayam ketawan Piala Wali Kota Surabaya ke-4 itu diikuti sekitar 350 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sulawesi hingga Sumatera.

Ia menjelaskan, lomba terbagi ke dalam enam kategori. Berdasarkan jenis bunyi, menurut dia, kategori perlombaan dibagi menjadi kategori ‘garetek’, ‘slow’ dan ‘dangdut’. Ia menggambarkan, pada kategori garetek, tempo ayam ketika berkokok harus cepat dan panjang.

“Kalau kategori slow, bunyi ayam harus lambat dan panjang. Kalau dangdut, bunyinya harus meliuk-liuk,” ujar Rusli.

Menurut Rusli, kontes ayam ketawa semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, menurut dia, untuk pertama kalinya, lomba ayam ketawa Piala Presiden akan diadakan di Bogor pada September mendatang.

Tak hanya sekedar menyalurkan hobi, menurut Rusli, kotes-kontes yang diadakan merupakan bagian dari upaya penyelamatan ayam ketawa, yang merupakan unggas endemik Indonesia, dari ancaman kepunahan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement