Selasa 12 May 2015 16:04 WIB

Begini Cara Mencegah Malnutrisi pada Anak

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Untuk memastikan anak tidak kekurangan zat besi, orang tua bisa menambahkan bahan makanan kaya zat besi seperti hati ayam juga daging merah.
Foto: baby recipe
Untuk memastikan anak tidak kekurangan zat besi, orang tua bisa menambahkan bahan makanan kaya zat besi seperti hati ayam juga daging merah.

REPUBLIKA.CO.ID, Seribu hari pertama kehidupan anak adalah masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemenuhan gizi yang cukup diperlukan untuk mendukung kesehatan anak di masa depan.

WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, dan memperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) seperti yang disarankan oleh tenaga kesehatan sejak bayi genap berusia 6 bulan. Meski telah diperkenalkan pada makanan, ibu tetap memberikan ASI sampai anak berusia dua tahun atau lebih.

Agar anak tetap sehat pada masa penyapihan, MPASI harus bernutrisi, bersih, aman, dan diberikan dalam jumlah yang tepat. Namun tampaknya praktik pemberian MPASI di Indonesia belum sesuai dengan rekomendasi WHO. Hal ini kemungkinan menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka malnutrisi di Indonesia.

 

“Berdasarkan kajian literatur, secara umum praktik pemberian MPASI pada anak belum optimal. Hal ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka malnutrisi pada anak di Indonesia,” ungkap dr Trevino dari Kedokteran Komunitas Universitas Indonesia, Jakarta, kemarin (11/5).

Ia menambahkan pemberian MPASI harus dilakukan dengan tepat, baik waktu, jumlah, jenis, dan kualitasnya. Kekurangan asupan mikronutrien dalam jangka panjang dapat berakibat pada defisiensi zat gizi mikro sampai terjadi gejala klinis seperti anemia. Jika tidak segera ditangani, maka anemia akan berdampak negatif seperti penurunan kognitif dan anak mudah terkena infeksi.

Karena itu, kekurangan mikronutrien harus dicegah. Bagaimana caranya? Head of Public Health Nutrition Department Dr. Jörg Spieldenner, seorang staf ahli dari Nestlé Research Center di Lausanne, mengatakan salah satu solusi untuk mencegah defisiensi mikronutrien adalah dengan fortifikasi pangan.

Fortifikasi adalah upaya meningkatkan mutu gizi pangan dengan menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro tertentu pada makanan tersebut. Gera, dkk. (2012) mengkaji 60 penelitian percobaan fortifikasi yang dilakukan di Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika pada negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Penelitian sebagian besar dilakukan pada anak-anak.

 

“Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi makanan dengan fortifikasi zat besi meningkatkan konsentrasi haemoglobin dan menurunkan risiko terjadinya anemia dan defisiensi besi. Dengan demikian, fortifikasi merupakan cara yang efektif untuk mencegah terjadinya defisiensi zat besi dan anemia,” tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement