REPUBLIKA.CO.ID, Kampung Curug tilu berada di tengah perbukitan di sebelah timur Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Untuk mencapai Kampung Curug Tilu, dibutuhkan sedikit pengorbanan. Ini karena, jalan menujuk lokasi wisata alam tersembunyi itu, cukup susah. Ya, karena lokasi kampung ini berada di tengah hutan di antara berbukit-bukit.
Meski demikian, kendati jalannya yang susah, banyak wisatawan yang berkunjung ke kampung tersebut untuk menikmati pesona alamnya yang masih ‘perawan’. Di sana ada dua tempat yang menjadi daya tarik wisatawan, yakni air terjun Curug Gado Bangkong dan Curug Badak.
Bahkan, air terjun Curug Gado Bangkong ketinggian mencapai sekitar 40 meter. Di bawah tempat jatuhnya air terdapat kubangan air yang cukup luas. Indahnya lagi, air yang ada telihat jernih dan dingin membuat siapa saja yang berkunjung ke sana ingin berenang.
Salah satu wisatawan yang sedang berlibur di sana, Fikri (23 tahun) mahasiswa kampus LP3I di Jakarta Selatan mengaku, datang ke Kampung Curug Tilu untuk menikmati panorama alam pedesaan. Dia mengatakan, tujuannya berwisata ke Curug Gado Bangkong dan Curug Badak karena ingin menikmati pesona alam hutan tropis.
Menurutnya, airnya yang jernih ditambah udaranya segar dan suasanannya tenang menjadi kesan tersendiri bagi para penikmat alam. “Untuk sampai ke curug ini harus melewati jalan setapak di antara jurang dan tebing di sela-sela bukit. Sangat menantang,” ujar Fikri.
Dari Curug Gado Bangkong untuk sampai ke Curug Badak, Anda harus berjalan kaki lagi kurang lebih sejauh 500 meter. Jalannya menanjak melewati sisi bukit dan pematang sawah. Saat melewati pematang sawah inilah, terdapat empat rumah warga yang terbuat dari kayu, bilik, dan bambu. Warga yang tinggal di sana sangat mengandalkan hasil pertanian untuk makan dan bertahan hidup.
Di Curug Badak, wisatawan hanya bisa sampai ke bagian atas curug. Terdapat batu-batuan besar di atasnya. Di atasnya lagi ada kubangan air yang sangat jernih dan segar. Menurut warga sekitar, saking jernihnya, air tersebut bisa langsung diminum. Kubangan tersebut seukuran kolam renang mini. Banyak wisatawan berenang di sana untuk mencicipi segarnya air pegunungan.
Curug Badak memiliki ketinggian lebih dari Curug Gado Bangkong. Penduduk setempat meyakini ketinggiannya lebih dari 50 meter. Tidak ada akses jalan menuju ke bawah curug. Wisatawan hanya bisa melihatnya dari bibir curug yang berupa bebatuan besar. Namun, hal tersebut cukup berbahaya bagi yang fobia atau takut ketinggian.
Uniknya, wisatawan yang berkunjung untuk menikmati pesona alam Kampung Curug Tilu tidak dikenakan biaya atau tiket masuk. Mereka hanya diwajibkan membayar parkir sepeda motor sebesar Rp 2.000. Sementara, untuk biaya parkir mobil sebesar Rp 5.000.
Curug Badak dan Gado Bangkong tepatnya berada di Kampung Curug Tilu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Jika dari Kota Tasikmalaya, aksesnya melalui Indihiang atau Jalan Raya Raja Polah. Kemudian belok ke kiri menuju Cisayong. Dari Cisayong menuju ke Desa Indrajaya Kecamatan Sukaratu.
Jalannya mulai menyempit tapi masih bisa dilalui kendaraan roda empat. Setelah melewati Desa Indrajaya, sampai lah di Kampung Curug Sawo. Kendaraan roda empat hanya bisa sampai di Kampung Curug Sawo. Kemudian wisatawan harus berjalan kaki sekitar 2,5 km melewati jalan setapak. Tapi untuk kendaraan roda dua masih bisa dibawa sampai ke dekat Curug Gado Bangkong. Di sana ada tempat parkir untuk sepeda motor.
Kampung Curug Tilu
Dari Kampung Curug Sawo menuju Kampung Curug Tilu, jalan sempit, naik turun di antara perbukitan. Di sebelah kirinya ada jurang yang dalam dan dibagian kanannya juga ada tebing. Tapi para pengunjung menyukai jalannya. Menurut mereka jalan ke gunung memang harus demikian. Di antara jalan setapak tersebut, ada banyak rumah warga.
Mereka tinggal jauh dari keramaian kota. Mereka mengandalkan kesuburan tanah yang ada di sekitar rumah mereka. Akan tetapi, dari rumah mereka terlihat pemandangan Kota Tasikmalaya di bawah. Saat malam lampu-lampu di kota yang menjala menjadi pemandangan sehari-hari mereka. Suasana kampung benar-benar sangat terasa di sana.
Anih (43 tahun) tinggal di ujung Kampung Curug Tilu, rumahnya ada di antara Curug Gado Bangkong dan Curug Badak. Dia tianggal di rumah bilik tua. Kesehariannya, dia bertani padi. Sangat disesalkan meski tanah disekitar tempat tinggalnya sangat subur, dia hanya bisa menanam padi. Jika dia menenam jagung, ketela dan umbi-umbian, tanamannya akan rusak dan buruk.
“Kalau malam, belasan monyet dan babi turun dari hutan, mereka merusak tanaman ubi-ubian,
ujar Anih. Karenanya, warga yang tinggal di ujung Kampung Curug Tilu hanya menanam padi.
Warga lainnya, Asep Mustopa (45) mengatakan, tanaman padi di kampungnya tidak pernah kekurangan air. Hanya saja irigasinya masih tradisional. Selain itu, jalan ke ujung kampung hanya berupa jalan setapak yang setengah di semen setengahnya lagi tanah becek.
Kondisi jalan tersebut diakuinya mempersulit warga kampung yang hendak turun ke desa atau ke kota di bawah. Wisatawan yang membawa sepeda motor juga kesulitan saat melewati jalan setapak tersebut.
Asep berharap, pemerintah daerah memperhatikan Kampung curug Tilu meski lokasinya berada di ujung. Menurutnya, kampung tempat ia tinggal sangat berpotensi, salah satunya memiliki potensi wisata alam yang sangat baik jika diolah dengan baik oleh pemerintah setempat.