Rabu 22 Apr 2015 16:26 WIB

Ibu Hamil Dilarang Diet, Ini Alasannya

Rep: MG ROL 33/ Red: Indira Rezkisari
Ibu hamil.
Foto: Republika/Prayogi
Ibu hamil.

REPUBLIKA.CO.ID, Ibu hamil dianjurkan untuk tidak melakukan diet. Alasannya, berat badan ibu hamil bisa mempengaruhi berat badan anak dalam kandungannya.

Masih merasa gundah karena memiliki berat badan yang melambung, berikut alasan bagi ibu hamil untuk berdamai dengan berat badannya dan tidak berdiet sebatas untuk mengurangi berat badannya.

Dikutip dari laman NDTV, Rabu (22/4), ibu hamil tidak perlu melakukan diet. Tapi ia harus berhati-hati dengan apa yang dimakan. Jaga keseimbangan makanan ideal yang mencakup semua vitamin dan nutrisi yang baik bagi janin. Diet sehat memang penting, tetapi jika Anda sedang hamil atau menyusui, itu tidak terlalu penting. Hal itu dikemukakan oleh National Health Service (NHS) Inggris.

Menurut pemimpin penelitian Kirsteen Browning, profesor ilmu saraf dan perilaku di Penn State College of Medicine, tidak semua orang yang obesitas memiliki ibu yang banyak mengonsumsi lemak ketika hamil. "Sudah saatnya kita mulai menggangap gagasan serius, mengenai obesitas merupakan penyakit otak," kata Kirsteen. Ia menilai pemahaman tentang mekanisme biologis yang mendasari obesitas dapat membantu membendung gelombang obesitas.

Dalam penelitian ini para peneliti memberikan makan pada sekolompok tikus yang makan tinggi lemak selama kehamilan dan menyusui. Anak-anak tikus diberi makan yang sama setelah tahap menyusui. Ketika tikus mencapai usia remaja, para peneliti mengukur aktivitas saraf mereka terlibat dalam keseimbangan energi dan regulasi nafsu makan.

Temuan menunjukkan bahwa ada pengaruh yang siginifikan dari ibu yang diet dengan beberapa daerah yang mengontrol pola makan di otak. Persisnya bagaimana ibu yang diet mempengaruhi fungsi-fungsi otak masih belum diketahui. "Kami menemukan bahwa bagian-bagian dari refleks ini benar-benar terganggu bahkan sebelum kita melihat obesitas," tambah Kirsteen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement