REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Menara Minuchir Mosque yang masih kokoh berdiri seribu tahun lamanya sampai saat ini menjadi saksi bisu kemegahan masjid di tengah kejayaan kota metropolis abad ke-11 di Turki.
Tidak hanya menara, satu ruangan salat yang masih tersisa juga menjadi pengingat bahwa masjid tersebut pernah berdiri sebagai pusat peradaban Muslim di Ani. Kota Ani yang pada saat itu memiliki populasi lebih dari 100 ribu jiwa menjadi pusat kerajaan kuat di Armenia dan Turki Timur. Ani berada di tengah-tengah sejumlah rute perdagangan pada zaman modern Armenia dan Turki Timur.
Meskipun kota itu padat transaksi perdagangan sekaligus berlimpah kekayaan, namun juga rentan terhadap serangan dan penaklukan. Dilansir Atlasobscura, Ahad (18/1) pada 1064, sebuah kekuatan Seljuk yang cukup kuat mampu melumpuhkan Ani dengan bantuan beberapa pasukan Kaukasus.
Tidak hanya perbudakan dan penjualan manusia, pembunuhan juga menjadi kekejaman pasukan penguasa pada zaman itu. Populasi penduduk di Ani berubah menjadi didominasi umat Kristen maupun Muslim yang memadati jantung Turki. Sayangnya, saat terjadi kerusuhan pada abad ke-13 antara Kurdi dan Mongol, akhirnya Minuchir Mosque pun hancur.
Setelah Mongol berkuasa, menara Minuchir Mosque menjadi satu-satunya peninggalan sejarah yang paling terawat baik di kota tersebut. Arkeolog Rusia mulai menjelajahi situs ini di awal abad ke-20.
Masjid itu sempat kembali hidup karena dijadikan sebagai fasilitas penyimpanan artefak, namun tidak berlangsung lama. Kini menara dan satu ruang salat itu teronggok di salah satu gurun pasir di Turki.