REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Angga Indrawan
Kampung Laweyan juga menjadi saksi pergerakan nasional pada perjuangan kemerdekaan. KH Samanhudi, tokoh sentral dalam pergerakan politik dan dagang di Laweyan, mendirikan Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905. Pada awalnya, SDI dibentuk sebagai perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang masuknya pedagang asing, khususnya Tionghoa dan Eropa yang menguasai ekonomi pada masa itu.
SDI sendiri merupakan cikal bakal pergerakan yang lahir di Indonesia. Keberadaannya menginspirasi pergerakan lainnya, termasuk pendirian organisasi Boedi Oetomo, tiga tahun kemudian. KH Samanhudi merupakan saudagar batik yang kaya. Konon, kekayaannya mampu membendung Kali Kabanaran sekalipun. Semua kekayaannya habis dijual untuk perjuangan kemerdekaan. Namun begitu, di Laweyan masih ada sedikit peninggalan tentang KH Samanhudi
1. Rumah KH Samanhudi
Presiden Sukarno memberikan sebuah rumah untuk KH Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan KH Samanhudi. Berada tak jauh dari Masjid Laweyan dan makam Ki Ageng Henis.
2. Makam KH Samanhudi
Makam tokoh KH Samanhudi berada di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, di kompleks pemakaman tak jauh dari keberadaan situs Bandar Kabanaran Laweyan. Meski dalam kondisi makam yang kurang terawat, banyak peziarah yang datang, termasuk tokoh-tokoh nasional.
3. Museum KH Samanhudi
Menempati sebuah ruangan kecil di kantor Kelurahan Sondakan, Laweyan. Lokasi ini menjadi lokasi ketiga setelah sebelumnya museum swadana ini mengalami persoalan sewa pinjam bangunan. Museum menyimpan beberapa artefak dan dokumen berupa teks tentang kehidupan KH Samanhudi yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi. Juga, terdapat beberapa foto Samanhudi saat berjuang merintis Sarekat Dagang Islam (SDI). n