Rabu 02 Oct 2013 21:15 WIB

Lima Pemikiran Wanita Jepang Setelah Menikah (4)

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Hazliansyah
Wanita Jepang. Ilustrasi
Foto: AFP
Wanita Jepang. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Pernikahan internasional antara dua kewarganegaraan seperti menjadi tren akhir-akhir ini. Itu memberikan kesempatan bagi seorang laki-laki atau perempuan belajar tentang budaya lain dengan cara yang lebih mendalam.

Jepang, seperti masyarakat pada umumnya, memiliki sikap dasar sendiri tentang pernikahan. Beberapa di antaranya mungkin bisa mengejutkan bagi pria asing yang menikah dengan seorang wanita Jepang.

Madam Riri, seorang blogger di media online RocketNews24 mencoba menyusun daftar yang biasanya menjadi pemikiran wanita Jepang setelah menikah.

5. Panggilan sayang dan ungkapan cinta

Pola bicara pasangan merupakan refleksi dari pola berbicara sang anak. Oleh karena itu, Jepang mengharuskan aturan panggilan di dalam keluarga. Misalnya, setelah bayi pertama anda lahir, maka anda dan pasangan anda tidak lagi boleh lagi saling memanggil nama, melainkan menggantinya dengan okaa-san (ibu) dan otou-san (ayah).

Panggilan itu diwajibkan bahkan ketika mereka hanya bercakap berdua saja, tidak di depan anak-anaknya. Panggilan mama-papa juga masih ada, atau mereka menggantinya dengan panggilan suamiku dan istriku.

Setelah anda punya cucu, maka anda dan pasangan Jepang anda juga kembali mengganti panggilan menjadi obaa-san (nenek) dan ojii-san (kakek).

Seorang pacar, suami, istri di Jepang sangat jarang mengatakan 'I Love You' atau 'Aku Mencintaimu' kepada pasangannya. Ini memang terdengar sedikit dingin dan aneh. Namun, orang Jepang lebih suka mengungkapkan dan mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Jadi, mereka mengungkapkan cinta dengan tindakan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement