Ahad 01 Jul 2012 10:16 WIB

Bagaimana Memberi Tip alias Persenan?

Rep: susie evidia/ Red: M Irwan Ariefyanto
Uang, lambang rizki
Foto: REPUBLIKA
Uang, lambang rizki

REPUBLIKA.CO.ID,Dengan wajah panik, Vonny merogoh satu per satu saku baju dan celana. Tak ditemukan uang kecil. Di saku celananya terselip Rp 50 ribu. ''Masa sih memberi tip ke bellboy Rp 50 ribu? Kebesaran,'' pikirnya.Ia melirik barangnya yang ditenteng si bellboy. Tidak berat, hanya koper kecil berisi dua stel pakaian.

Tebersit di benak Vonny hanya memberi senyuman dan ucapan terima kasih. Tapi, lelaki berseragam dengan topi mirip kopiah itu tak beranjak dari depan pintu kamar. Dia mematung tersenyum ke arah Vonny. Walau tak terucap, Vonny paham betul bahwa ia menunggu tip.Di benak si bellboy, tampaknya, ''Sudah membawakan koper, mengantar, membuka kamar, dan menyalakan lampu-lampu. Jerih payah ini harus mendapat imbalan. Para tamu memberi tips hal biasa. Semua orang sudah tahu.''

Sedangkan Vonny menganggap, ''Itu kan tugas dia sebagai karyawan hotel. Masa harus ada bayaran lagi?'' Suasana saling menunggu harus segera diakhiri. Dengan terpaksa karyawati swasta itu menyerahkan selembar Rp 50 ribu. Si bellboy tersenyum senang.

''Terima kasih Bu. Selamat istirahat,'' tuturnya sambil memasukkan uang tip ke saku bajunya. Giliran Vonny yang kesal, Rp 50 ribu melayang. Untung di dalam negeri, kalau di luar negeri memberi tips 50 dolar AS, pasti merugi.

Proses pembelajaran yang berlaku selama ini, ketika ada yang membantu harus dibalas. Tip alias persenan, kata Rizal Manan SPsi, bentuk balas jasa kepada seseorang yang telah membantu kita. Tapi, sebenarnya memberi tip bukan sebuah kewajiban. ''Tidak ada kata `harus','' kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini. Sebab, tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan memberi tip.

Jadi, tip bersifat sukarela. Terserah masing-masing pihak apakah akan memberi atau tidak. Berapa jumlah tip yang harus dikeluarkan pun tak ada patokan.Dilihat sejarahnya, lanjut Rizal, tips merupakan budaya Barat. Di Barat orientasinya keuntungan. Apa pun selalu dikaitan dengan untung rugi. Pelayan di luar negeri secara to the point menyodorkan tangan meminta tips setelah melayani tamu. Di restoran, kafe, tip dicantumkan dalam struk pembayaran.

Tertulis dalam daftar service. Namun, meski membayar tip sebesar lima persen, biasanya para tamu masih menyisihkan tip tambahan.Kata 'tip' itu sendiri konon berasal dari abad ke-16. Artinya, memberi, menyerahkan, kemungkinan berasal dari bahasa Jerman lama tippen. Tapi, dalam bahasa Jerman modern, istilah persenan disebut Trinkgeld, uang untuk minum. Bahasa Prancis, le pourboir, artinya pun sama.

Di negara-negara Uni Eropa praktik pemberian tip beragam. Namun, secara umum tak dianggap sebagai kewajiban. Di Prancis, misalnya, meski tak diharapkan, tapi tak jarang orang menyisih kan, meninggalkan uang kembalian di meja. Di AS, pemberian tip berlaku luas. Bila Anda sedang di luar negeri mau tidak mau harus mengikuti budaya setempat. Jika tidak memberi tips, Anda dianggap lain, aneh.

Nah ... budaya Barat ini diadopsi ke Tanah Air. Akibatnya, kata Rizal Manan, kini menjadi kebiasaan. Seakan-akan setelah memberi jasa, `harus' ada balasan. Restoran, kafe di kota-kota besar kini mencantumkan service pada bon pembayaran. Di daerah-daerah pariwisata pun sudah akrab dengan budaya tip.

`'Perilaku itu yang kini menetap di Indonesia. Setiap memberi jasa, tidak cukup ucapan terima kasih tapi harus ada tip,'' ujar psikolog di Lembaga Terapan Psikologi UI ini.

Gara-gara adopsi kebiasaan Barat itulah, kini setiap jasa apa pun harus mengeluarkan 'uang terima kasih'. Mendorong mobil, mencarikan parkir, membukakan pintu taksi, dan lainnya harus memberi tip. Tidak ada lagi yang gratis.

Sebetulnya, kata Rizal, terserah saja mau memberi, atau tidak. Namanya juga sukarela. Tapi kalau semua memberi, si penerima jasa yang tidak memberi, dianggap aneh. Akibatnya, tidak enak hati. Di sisi lain, si pemberi jasa akan setia menunggu, tidak mau pergi sebelum mendapat tips.`'Rasa bersalah dan emosi kita sebenarnya yang dimanfaatkan si pelayan,'' ujar Rizal. Padahal, bila kita berpikir dengan rasio, si pelayan sudah digaji oleh perusahaan tempat ia bekerja.

Bila emosi kita tidak terpancing, cukup terima kasih saja sebenarnya tidak masalah. ''Sekarang tergantung emosi Anda, apakah Anda tega mendiamkan orang yang sudah membantu Anda,'' tambahnya. Namun, Rizal mengingatkan perkembangan lain yang mengerikan. Kini tip diibarat alat keamanan. Ambil contoh, parkir di kawasan tertentu bila pengendara mobil tidak memberi tip kepada tukang parkir liar akan menghadapi risikonya kendaraan digores. Lalu, bagaimana dalam keadaan seperti ini? `'Demi keamanan lebih baik mengeluarkan uang berapa ribu daripada risikonya lebih besar,'' kata Rizal. Penyelesaian soal tip ternyata bolak-balik antara perasaan dan rasio.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement