Kamis 12 Apr 2012 18:16 WIB

Tiga Penulis Jadi Bintang Lomba Novel Republika

Rep: Qommaria Rostanti/ Red: Chairul Akhmad
 Para pemenang lomba; Gegge Mapanggewa, Yana Mariana, dan Setyo Harri, saat diskusi dalam Penganugerahan dan Temu Penulis Pemenang Lomba Novel Republika 2011 di Pendopo Kemang, Jakarta Selata, Kamis (12/4).
Foto: Republika/Agung Supri
Para pemenang lomba; Gegge Mapanggewa, Yana Mariana, dan Setyo Harri, saat diskusi dalam Penganugerahan dan Temu Penulis Pemenang Lomba Novel Republika 2011 di Pendopo Kemang, Jakarta Selata, Kamis (12/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Hari Kamis (12/4) ini, Republika memberikan penghargaan kepada tiga pemenang lomba penulisan novel. Ketiga pemenang ini berhasil mengalahkan 455 novel lainnya yang dikirimkan ke panitia.

Pengadaan lomba novel ini sebagai bagian dari mencerdaskan bangsa. Pemimpin Redaksi Harian Republika, Nashihin Masha, mengatakan sastra merupakan bagian dari indikator keberadaban sebuah bangsa. Untuk itulah Republika turut memacu kegiatan tersebut.

"Jika harta bisa membuat kaya secara fisik, tapi sastra bisa membuat kaya secara intelektual dan spiritual, itu yang membedakan sastra dengan karya lain," ujarnya saat ditemui dalam acara Penganugerahan dan Temu Penulis Pemenang Lomba Novel Republika, di Pendopo Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (12/4).

Antusiasme masyarakat terhadap pengadaan novel ini cukuplah membanggakan. Ini terbukti dari banyaknya karya yang masuk ke panitia. "Alhamdulillah, peserta luar bisa," ucap Nasihin.

Dirinya menyebut setelah masuk era reformasi, gairah masyarakat membaca buku meningkat, termasuk membaca karya sastra. Lomba diikuti dari peserta di 133 daerah. Bukan hanya sekedar Jakarta, Bandung dan Yogjakarta, tapi juga kota-kota kecil di Indonesia.

Nasihin berharap semoga pada lomba-lomba berikutnya akan diikuti lebih banyak lagi peserta. "Sekarang temanya religius, namun ke depannya kami berharap tema akan lebih luas lagi," katanya.

Pengadaan lomba novel akan diadakan rutin. Pasalnya, sudah lama tidak diadakan lomba penulisan novel. "Saya kira di masa reformasi baru ada lagi dan Republika yang pertama," ujar Nasihin.

Ketua Panitia Lomba, Syahruddin El-Fikry, mengatakan jumlah total hasil karya yang masuk sebanyak 458 naskah. Namun, tiga diantaranya dianggap tidak memenuhi persyaratan sehingga harus didiskualifikasi.

Dari jumlah tersebut, panitia menyeleksi sehingga hanya 398 naskah dinyatakan lulus seleksi administratif. Kemudian naskah-naskah ini kembali disaring oleh empat juri internal yakni, Darmawan Sepriyossa, Irwan Kelana, Priyantono Oemar, dan Wulan Tunjung Palupi hingga menjadi 25 besar.

Tak hanya sampai di sini, ke-25 naskah kembali diseleksi. Namun, kali ini penyeleksian juga dilakukan oleh para juri eksternal. Asma Nadia, Salman Aristo dan Priyantono Oemar menyeleksinya menjadi 10 besar. "Kemudian dipilih lagi hingga menjadi tiga besar," ujar Syahruddin.

Ketiga karya yang telah terpilih, yakni "Lontara Rindu" karya Gegge Mappangewa dari Makassar, "Tahta Mahameru" karya Azzura Dayana dari Palembang, dan "Bila Cinta Mencari Cahaya" karya Harri Ash Shiddiqie dari Jember.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement