Selasa 10 Apr 2012 11:56 WIB

Meningkatkan Daya Konsentrasi Siswa, Inilah Caranya

Rep: Reiny Dwinanda/ Red: Heri Ruslan
Suasana proses belajar mengajar di kelas.  (Foto Ilustrasi)
Foto: Agung Supriyanto/Republika
Suasana proses belajar mengajar di kelas. (Foto Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Belajar di kelas merupakan proses yang kompleks. Anak mesti memperhatikan guru secara penuh dan berkonsentrasi terhadap materi yang di ajarkan. Namun, kenyataannya, itulah yang paling sering lenyap ketika mereka duduk di bangku kelas.

Terdengar akrab dengan polah ananda? Cobalah melibatkan anak ke dalam aktivitas fisik. Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti asal Italia memantau keterkaitan antara kedua hal tersebut.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti memantau hasil tes uji ketajaman otak 138 anak berusia delapan hingga 11 tahun pada sejumlah kondisi. Beberapa di antaranya melibatkan aktivitas fisik dan tanpa kegiatan olah fisik.

“Para guru sering kali mengeluhkan siswanya kehilangan perhatian dan konsentrasi dalam meng ikuti instruksi akademik setelah bebe rapa saat belajar,” kata first study author Maria Chiara Gallotta dari University of Rome, Italia, seperti dikutip HealthDay News.

Kunci keberhasilan proses belajar, lanjut Gallotta, ada pada atensi dan konsentrasi. Terutama, pada masa perkembangan anak. “Aktivitas fisik menyumbang 10 poin peningkatan daya konsentrasi anak, sedangkan tes mental terkait ujian akademik sebelum ujian sesungguhnya menambah daya konsentrasi 13 persen.”

Pengamatan dilakukan selama tiga pekan. Anak-anak dijadwalkan untuk mengikuti tiga sesi ujian yang masing-masing harus dituntaskan dalam 50 menit. Sebelum menjawab soal pertama, mereka terlebih dulu melakukan sebentuk aktivitas fisik. Lalu, pada tes kedua, mereka hanya perlu mengerjakan soal akademik. Pada tes ketiga, mereka berpartisipasi dalam kegiatan fisik dan akademik.

Seluruh tes tersebut dirancang sebagai instrumen untuk memantau kemahiran mempertahankan konsentrasi sekaligus kualitas jawaban responden ciliknya. Hasilnya, anak-anak menunjukkan kinerja terbaiknya menyusul aktivitas fisik ataupun aktivitas akademik.

“Namun, mereka merosot kemampuannya ketika tes digabung,” tutur Gallotta yang penelitiannya dimuat pada edisi Maret Medicine & Science in Sports & Exercise.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement