Jumat 23 Oct 2026 21:54 WIB

Psikolog Ingatkan Bahaya Bentak dan Pukul Anak

Kebiasaan membentak hingga memukul dapat menimbulkan trauma pada anak.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi kekerasan. Menurut psikolog, orang tua seharusnya tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi perilaku anak.
Foto: Republika/Daan Yahya
Ilustrasi kekerasan. Menurut psikolog, orang tua seharusnya tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi perilaku anak.

JAKARTA -- Video yang memperlihatkan dugaan kekerasan oleh orang tua terhadap anak di dalam lift sebuah hotel di Malaysia, viral di media sosial. Insiden itu diduga dipicu oleh perselisihan sepele antara dua anak yang saling berebut tempat duduk di stroller.

Dalam video, sang ayah terlihat menendang stroller anak, sementara sang ibu memarahi dan menarik paksa anak. Keluarga tersebut diketahui adalah orang Indonesia yang sedang berlibur di Negeri Jiran.

Baca Juga

Menanggapi hal ini, psikolog dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, menilai orang tua seharusnya tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi perilaku anak. Jika hendak mendisiplinkan buah hati, sebaiknya tidak dengan bentakan, pukulan, ataupun cubitan.

"Merespons kelakuan anak atau sibling rivalry seperti di video, itu tidak harus selalu dengan kekerasan. Kita bisa mendisiplinkan anak dengan mengajarkan aturan dan konsekuensi. Bilang baik-baik ke anak, misalnya 'jangan berebut ya, nanti kalian tidak boleh main sepeda'," kata Rose saat dihubungi Republika, Jumat (23/10/2026).

Menurut Rose, kebiasaan membentak hingga memukul dapat menimbulkan trauma dan berdampak pada kondisi psikologis Si Kecil. Selain itu, pola asuh disertai kekerasan justru dapat memperburuk perilaku anak dan membuat orang tua semakin sulit mendisiplinkan mereka.

"Kalau sudah terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya kekerasan seperti itu, maka anak biasanya makin meningkat. Dan ini kalau menurut saya, bukan makin membaik, akan makin memburk kalau sudah dimulai dengan hal-hal kekerasan seperti ini," kata Rose.

Prof Rose mengatakan situasi selama liburan dapat menjadi tantangan bagi orang tua dalam mengasuh anak. Karena momen liburan, terutama jika pergi ke luar negeri dan tanpa dibantu pengasuh, justru bisa membuat orang tua mengalami kelelahan fisik.

Akibat kelelahan tersebut, orang tua juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap tangisan, jeritan, dan pertengkaran antaranak. Rose menjelaskan, kelelahan dan stres berkaitan dengan peningkatan hormon kortisol yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih sensitif dan mudah terpancing emosi.

 

L

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi