REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memahami kondisi kesehatan mental tidak selalu mudah. Berbeda dengan gangguan fisik yang terkadang dapat terlihat secara langsung, masalah kesehatan mental kerap diawali gejala yang sulit dikenali, seperti kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, perubahan suasana hati, hingga gangguan tidur.
Gejala tersebut sering dianggap sebagai dampak kelelahan atau banyak pikiran. Padahal, jika berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk membantu memahami aktivitas otak adalah quantitative electroencephalography (qEEG) atau pemetaan otak. Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik otak melalui sensor yang ditempelkan di permukaan kulit kepala.
Dokter spesialis neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K, menjelaskan qEEG dapat memberikan gambaran mengenai pola aktivitas listrik di berbagai area otak. "Sederhananya, qEEG itu seperti membuat 'peta' dari aktivitas listrik otak kita. Peta ini kemudian dibandingkan dengan pola otak orang-orang pada umumnya, sehingga kita bisa melihat area mana yang polanya berbeda dari kebanyakan orang," ujar Niken yang berpraktik di Brain Wellness & Sleep Center di Seraphim Medical Center Gading Serpong, Rabu (14/10/2026).
Pemeriksaan qEEG dilakukan dengan memasang sejumlah sensor kecil di permukaan kulit kepala. Sensor tersebut merekam sinyal listrik yang dihasilkan aktivitas sel-sel saraf otak.
Selama pemeriksaan, pasien diminta duduk tenang dalam beberapa menit. Perekaman dapat dilakukan ketika mata terbuka maupun tertutup. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan komputer untuk menghasilkan gambaran pola aktivitas listrik otak.
Hasil rekaman selanjutnya dapat dibandingkan dengan basis data normatif atau pola aktivitas otak pada kelompok populasi tertentu. Perbandingan ini membantu dokter mengidentifikasi pola yang berbeda dan menjadi bahan pertimbangan dalam pemeriksaan lebih lanjut.