Rabu 14 Oct 2026 08:57 WIB

Mengenal Robotic Knee Surgery untuk Pasien OA

Prosedur bedah robotik bantu pasien pulih dengan lebih cepat.

Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Knee and Sports Medicine Jakarta Knee and Shoulder Orthopedic Sports Centre RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp. OT (K).
Foto: Republika/Indira Rezkisari
Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Knee and Sports Medicine Jakarta Knee and Shoulder Orthopedic Sports Centre RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp. OT (K).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Teknologi robotik mulai dimanfaatkan dalam operasi penggantian sendi lutut atau total knee replacement untuk menangani pasien osteoarthritis (OA) stadium lanjut. Teknologi ini membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih presisi melalui pemetaan anatomi lutut dalam bentuk tiga dimensi (3D).

Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Knee and Sports Medicine Jakarta Knee and Shoulder Orthopedic Sports Centre RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp. OT (K), menjelaskan teknologi robotik bukan untuk menggantikan peran dokter bedah. Sebaliknya, teknologi tersebut menjadi alat bantu dalam memetakan anatomi lutut pasien sekaligus mengarahkan jalannya operasi.

Baca Juga

Melalui teknologi ini, dokter dapat melihat peta anatomi lutut dalam bentuk 3D dan mengenali bagian sendi yang mengalami kerusakan secara real time. Informasi tersebut membantu dokter menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

"Teknologi robot bukan menggantikan peran dokter, tetapi membantu dokter memetakan anatomi lutut pasien serta mengarahkan jalannya operasi agar lebih presisi dan akurat," ujar Andre.

Pada pasien osteoarthritis stadium lanjut, kerusakan tulang rawan sendi dapat menyebabkan nyeri hebat dan keterbatasan gerak. Ketika penanganan nonoperatif tidak lagi memberikan hasil optimal, operasi penggantian sendi lutut dapat menjadi salah satu pilihan.

Prosedur total knee replacement dilakukan dengan mengganti sendi lutut yang mengalami kerusakan menggunakan implan buatan. Pada metode konvensional, proses pemulihan dapat membutuhkan waktu cukup panjang sebelum pasien kembali berjalan secara mandiri.

Dengan bantuan teknologi robotik, dokter memiliki panduan lebih terukur dalam melakukan pemotongan tulang dan menentukan posisi implan. Teknologi ini juga membantu membatasi tindakan pada bagian yang diperlukan sehingga jaringan sehat di sekitar sendi dapat dipertahankan.

Salah satu manfaat yang diharapkan dari prosedur tersebut adalah pemulihan pascaoperasi yang lebih optimal. Andre menjelaskan, pasien umumnya sudah dapat mulai berjalan dalam 24 jam setelah tindakan robotic total knee replacement.

Setelah itu, pasien dapat kembali melakukan aktivitas ringan dalam hitungan minggu. Dengan perawatan pascaoperasi dan program fisioterapi yang baik, pemulihan dapat berlangsung dalam beberapa bulan.

Selain membantu meningkatkan presisi pemasangan implan, penggunaan teknologi robotik juga diharapkan dapat mengurangi nyeri pascaoperasi dan risiko komplikasi. Meski demikian, hasil tindakan tetap bergantung pada kondisi pasien dan evaluasi dokter.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi