REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kawat gigi atau behel masih kerap dipandang sebagai bagian dari tren penampilan, terutama di kalangan remaja. Padahal, penggundan behel pada dasarnya merupakan bagian dari perawatan ortodonti yang dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.
Dokter gigi spesialis ortodonti sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, drg Puspitarini Nindya Wardana, mengatakan tidak semua orang membutuhkan behel. Keputusan untuk menjalani perawatan ortodonti harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing pasien.
"Klaim bahwa semua orang perlu behel itu mitos. Penggunaan behel itu harus ada indikasi medis," kata Puspitarini dalam keterangan tertulis, dikutip pada Ahad (30/8/2026).
Beberapa kondisi yang dapat menjadi pertimbangan dalam perawatan ortodonti antara lain gigi berjejal, terlalu rapat, terlalu renggang, jarak antargigi yang tidak normal, serta hubungan gigitan yang tidak tepat seperti gigitan dalam, gigitan terbuka, dan gigitan silang.
"Tetapi, keberadaan salah satu kondisi tersebut tidak berarti seseorang otomatis harus menggunakan behel. Diagnosis dan rencana perawatan tetap perlu ditentukan berdasarkan pemeriksaan profesional," kata dia.
la juga meluruskan sejumlah anggapan yang masih berkembang di masyarakat mengenai penggunaan behel. Salah satunya anggapan bahwa behel bisa membuat bentuk pipi menjadi lebih tirus.
Puspitarini menyebut tujuan utama perawatan ortodonti bukan untuk membuat pipi menjadi tirus. "Behel itu tidak dapat menjadikan pipi tirus. Kalaupun ada perubahan wajah, itu karena pencabutan gigi," kata dia.
Dalam perawatan ortodonti, perubahan penampilan wajah memang dapat terjadi pada sebagian pasien. Namun, perubahan tersebut bergantung pada kondisi awal gigi dan rahang serta rencana perawatan masing-masing pasien. Karenanya pemasangan behel tidak dapat dijadikan sebagai metode untuk mendapatkan bentuk wajah tertentu,
Puspitarini juga meluruskan anggapan bahwa behel dengan harga murah memiliki kualitas yang sama dengan perawatan ortodonti yang dilakukan sesudi standar. Menurut dia, keamanan perawatan tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang digunakan, tetapi juga pemeriksaan, kualitas bahan, perencanaan perawatan, dan kompetensi tenaga yang menangani pasien.
"Jadi tidak disarankan memilih layanan pemasangan kawat gigi hanya berdasarkan harga. Konsultasi dan pemeriksaan diperlukan untuk menentukan kondisi gigi serta kebutuhan perawatan setiap pasien," kata drg Puspitarini.