REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menemukan sehelai rambut beruban saat baru menginjak usia 20-an atau mendadak sering lupa di mana menaruh kunci kendaraan saat memasuki kepala tiga, sering kali memicu kepanikan kecil dalam diri. Secara spontan, muncul kekhawatiran apakah tubuh dan otak kita sedang mengalami proses penuaan dini yang berjalan lebih cepat dari seharusnya.
Di era modern dengan ritme hidup yang serbacepat, kecemasan seperti ini menjadi topik yang kian sering diperbincangkan. Namun, para ahli saraf atau neurolog menyebut fenomena uban pada usia muda atau kabut otak (brain fog) di usia 30-an tidak selalu menjadi sinyal bahaya bahwa kamu menua sebelum waktunya. Meskipun demikian, stres kronis yang tidak dikelola memang memiliki andil dalam mengacaukan berbagai proses biologis yang mendukung penuaan sehat. Selain stres, faktor genetika, nutrisi, pola tidur, dan kebiasaan hidup sehari-hari juga memegang peranan yang sangat krusial.
Konsultan Senior Neurologi dan Kepala Unit Klinis Penyakit Parkinson dan Gangguan Gerak di Fortis Hospital, Noida, dr Neha Pandita, menjelaskan bagaimana stres jangka panjang dapat mengacaukan berbagai sistem organ di dalam tubuh. Menurut dia, meskipun tanda-tanda ini tidak selalu berarti penuaan dini, stres kronis memang dapat memengaruhi beberapa proses biologis yang berkaitan dengan cara tubuh dan otak kita menua.
"Stres memicu respons alami tubuh untuk melawan atau menghindar (fight-or-flight), dengan melepaskan hormon-hormon yang mempersiapkan kita menghadapi tantangan mendesak. Namun, ketika stres tersebut berubah menjadi kronis, paparan hormon yang berkepanjangan ini dapat merusak kualitas tidur, meningkatkan peradangan, mengubah metabolisme, hingga menurunkan fungsi otak," kata dia dikutip dari laman Hindustan Times pada Senin (29/6/2026).
Otak manusia merupakan salah satu organ yang paling rentan terhadap dampak negatif dari tekanan mental berkepanjangan. Menurut dr Pandita, area yang mengatur memori kita adalah yang paling pertama merasakan dampaknya.
"Tingginya kadar stres dapat memengaruhi area seperti hipokampus, yang merupakan pusat proses belajar dan memori. Dampaknya, seseorang bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, kelelahan mental, atau merasa daya ingatnya tidak lagi setajam dulu," kata dia.
Meski demikian, sifat pelupa yang sesekali muncul pada orang dewasa muda sebaiknya tidak langsung disalahartikan sebagai tanda penuaan dini pada otak. Dia mengingatkan, ada banyak faktor sehari-hari yang sering kali kita abaikan dan dituduh sebagai penuaan.
"Banyak anak muda yang mengeluhkan kondisi kabut otak (brain fog) sebenarnya sedang mengalami akumulasi dari kurang tidur, kejenuhan kerja (burnout), kekurangan nutrisi, serta stimulasi digital yang terus-menerus dari gawai mereka. Begitu pula dengan sifat pelupa yang sesekali muncul di usia 20-an atau 30-an, itu tidak selalu berarti otak menua lebih cepat. Daya ingat bisa terganggu akibat kurang tidur, kebiasaan melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multitasking), stres emosional, atau sekadar karena gaya hidup yang terlalu sibuk," kata dia menjelaskan.
Lantas, bagaimana dengan urusan rambut yang memutih di usia kepala dua? Faktor genetika atau garis keturunan tetap menjadi penentu utama kapan uban pertama akan muncul. Namun, stres juga dapat ikut berkontribusi dengan memengaruhi sel-sel yang bertanggung jawab atas pigmentasi atau pewarnaan rambut.