Selasa 09 Jun 2026 21:59 WIB

Bukan Sekadar Lucu-Lucuan! Andre Suhen Ungkap Alasan Konten Reaction Masih Digemari Jutaan Orang

Konten reaction bertahan karena hubungan emosional antara kreator dan penonton.

Kreator konten Andre Suhen. Dia dikenal lewat lajur gaming dan reaction comedy.
Foto: Dok. Andre Suhen
Kreator konten Andre Suhen. Dia dikenal lewat lajur gaming dan reaction comedy.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjual tawa spontan di internet itu mudah, tetapi merawat jutaan orang agar tetap mau menonton ekspresi yang sama selama bertahun-tahun adalah urusan lain. Di era ketika sebuah tren bisa mati sebelum genap berumur satu bulan, konten reaction menampilkan anomali yang menarik.

Di tengah gempuran video sinematik dengan modal besar, aktivitas sesederhana menonton video lain sambil berkomentar justru tetap kokoh berada di rantai makanan teratas industri digital. Fenomena ini yang "dijinakkan" oleh Andre Suhen. Kreator digital yang dikenal lewat lajur gaming dan reaction comedy ini memiliki sekitar 4 juta subscriber YouTube, 1,6 juta followers TikTok, hampir 1 juta followers Instagram, serta ratusan ribu pengikut di Facebook.

Baca Juga

Bagi orang awam, reaction sering kali dituduh sebagai konten malas, tinggal duduk, menyalakan kamera, lalu menumpang tenar pada karya orang lain.  Namun Andre menilai bahwa alasan utama konten reaction terus bertahan bukan karena videonya, melainkan karena hubungan emosional yang terbangun antara kreator dan penonton.

“Orang sebenarnya bukan cuma ingin melihat video yang direaksikan. Mereka ingin melihat bagaimana respons, sudut pandang, dan ekspresi kreatornya,” ujar Andre dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Selasa (9/6/2026).

Warganet hari ini dinilai tidak "kelaparan" informasi, melainkan "kelaparan" koneksi. Saat menyaksikan sebuah video viral sendirian di kamar, ada ruang hampa yang ingin diisi oleh manusia. Di sinilah kreator reaction masuk sebagai teman virtual. Ketika Andre tertawa atau mengerutkan dahi, penonton mendapatkan validasi atas apa yang mereka rasakan sendiri.

Maka dari itu, bagi Andre, kepercayaan audiens menjadi aset paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan jumlah followers semata. Algoritma bisa mendatangkan penonton acak dalam semalam, tetapi mereka bisa pergi dalam hitungan detik. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement