Kamis 28 May 2026 08:32 WIB

Mengapa Dugaan Monopoli Layar Bioskop Perlu Disikapi Serius?

Industri perfilman Indonesia dinilai membutuhkan pasar majemuk untuk bisa lebih kuat.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Petugas beraktivitas di area Bioskop CGV 23 Paskal, Kota Bandung, Kamis (16/9). Dugaan monopoli slot layar bioskop Indonesia dinilai harus disikapi serius demi menciptakan industri film yang lebih sehat dan adil.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Petugas beraktivitas di area Bioskop CGV 23 Paskal, Kota Bandung, Kamis (16/9). Dugaan monopoli slot layar bioskop Indonesia dinilai harus disikapi serius demi menciptakan industri film yang lebih sehat dan adil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produser sekaligus penulis skenario, Hikmat Darmawan, menanggapi dugaan monopoli slot layar bioskop Indonesia seperti yang disampaikan produser dari 786 Production Nicki RV. Menurut Hikmat, dugaan ini harus disikapi serius demi menciptakan industri film yang lebih sehat dan adil.

la mengatakan dugaan monopoli ataupun dominasi kelompok tertentu dalam penentuan kuota layar bioskop hanya akan melanggengkan pasar tunggal. Padahal menurutnya, industri perfilman Indonesia membutuhkan pasar yang majemuk untuk bisa lebih kuat dan berkeadilan.

Baca Juga

"Dugaan monopoli ini harus diseriusin, karena kita pengen lebih baik. Kita harus bicara dengan pihak yang sangat dirugikan dalam sistem ini. Harus lebih banyak mendengar. Karena untuk menciptakan sustainability, keadilan, itu membutuhkan adanya pasar majemuk. Nah praktik yang sekarang saya kira itu praktik yang membiarkan adanya dominasi," kata Hikmat saat dihubungi Republika, Senin (25/5/2026).

Hikmat mengungkapkan Nicki RV sebetulnya sudah lama menyuarakan kritik terhadap sistem perilisan dan penayangan film. Menurut dia, beberapa tahun lalu 786 Production sempat menggugat XXI karena film Uang Panai 2 hanya mendapat slot tayang terbatas di bioskop.

"Pak Nicky itu sudah lama menyuarakan ini. Waktu itu beberapa kali ada gugatan terhadap XXI terkait perilisan film Uang Panai 2 yang mendapatkan slot sangat sedikit. Dengar-dengar akhirnya ada konsesi, tapi itu juga karena ribut terus baru didengar," kata dia.

photo
Pengunjung membeli tiket di Cinema XXI Trans Studio Mall, Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/9/2021).  - (Antara/Raisan Al Farisi)

 

Hikmat menekankan saat ini kondisi industri perfilman Indonesia secara menyeluruh mulai dari market hingga infrastruktur belum bisa dikatakan baik-baik saja. Karenanya, menurut dia sikap kritis seperti yang disuarakan Nicki RV jangan dianggap remeh.

"Pada industri yang belum sehat seperti sekarang ini, ya perlu suara-suara keras kayak gitu, nggak usah di-gaslight misalnya, dianggap 'Oh PH burem, PH nggak jelas, nggak kebagian'. Jangan seperti itu. Saya malah senang ada suara kritis itu," kata dia.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement