Senin 25 May 2026 19:23 WIB

Polemik Jadwal Bioskop: Produser Ini Tuding Monopoli, Pengamat Sebut Sudah Terbuka

PH besar dituding terlalu menguasai jadwal tayang di bioskop.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pengunjung di dalam ruang tunggu Bioskop XXI di Yogyakarta, Selasa (27/10). Produser sekaligus pemilik 786 Production, Nicki R.V, menyampaikan protes terkait dugaan praktik monopoli jadwal tayang bioskop dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI pada Rabu (20/5/2026).
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Pengunjung di dalam ruang tunggu Bioskop XXI di Yogyakarta, Selasa (27/10). Produser sekaligus pemilik 786 Production, Nicki R.V, menyampaikan protes terkait dugaan praktik monopoli jadwal tayang bioskop dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI pada Rabu (20/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produser sekaligus pemilik 786 Production, Nicki R.V, menyampaikan protes terkait dugaan praktik monopoli jadwal tayang bioskop dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI pada Rabu (20/5/2026). Dalam forum tersebut, Nicky menuding adanya monopoli dan dominasi rumah produksi besar dalam kuota penayangan bioskop nasional.

la menyebut rumah produksi besar seperti MD Entertainment bisa merilis 8-9 judul film setiap tahunnya di bioskop, lalu Starvision juga bisa mencapai 11 judul. Menurutnya, hal itu sangatlah tidak adil.

Baca Juga

"PH besar ini terlalu menguasai jadwal tayang di bioskop, itu ekosistem yang sangat buruk. Dalam satu tahun rumah produksi seperti MD Entertainment bisa 8-9 judul film, Starvision 11 judul, dan lainnya," kata Nicki, dikutip dari saluran YouTube TV Parlemen.

photo
Petugas beraktivitas di area Bioskop CGV 23 Paskal, Kota Bandung, Kamis (16/9). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

 

la juga mengungkap bahwa 786 Production dan puluhan PH kecil lainnya merasa dirugikan dengan praktik monopoli yang terjadi saat ini. Karena film-film produksi mereka kerap mendapat jadwal rilis terbatas, rilis pada tanggal sepi, atau bahkan tidak mendapat kuota tayang sama sekali.

"Hari ini sebenarnya ada 60 orang yang mau ke sini, Pak. Banyak PH kecil yang merasa didzolimi, mereka seperti lagi tumbuh tulang di bawah meja. Jadi kalau mereka dapat jadwal tayang pun paling dapat di tanggal pasti mati," kata Nicki.

Nicki mengaku telah hampir 45 tahun berkecimpung di industri film Indonesia, utamanya di Makassar. la membandingkan kondisi saat ini dengan era bioskop konvensional sebelum hadirnya jejaring bioskop modern seperti Cinema XXI.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement