Senin 11 May 2026 15:31 WIB

Kemenkes: Hasil Uji WNA di RI Berkontak Hantavirus Negatif

Saat ini pemantauan tetap dilakukan secara ketat terhadap WNA tersebut.

Proses penurunan penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah hantavirus di Pelabuhan Granadilla de Abona di Tenerife, Spanyol, Ahad (10/5/2026). Kapal tersebut terkena wabah hantavirus selama penyeberangan Atlantik Selatan, yang menyebabkan tiga orang meninggal.
Foto: EPA/ALBERTO VALDES
Proses penurunan penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah hantavirus di Pelabuhan Granadilla de Abona di Tenerife, Spanyol, Ahad (10/5/2026). Kapal tersebut terkena wabah hantavirus selama penyeberangan Atlantik Selatan, yang menyebabkan tiga orang meninggal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan hasil pemeriksaan Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di Indonesia dan berkontak erat dengan penumpang terjangkit Virus Hanta atau Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius negatif. Indonesia menerima konfirmasi tersebut dari International Health Regulation (IHR).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni, Senin (11/5/2026), menyampaikan pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB Indonesia menerima notifikasi dari IHR National Focal Point (NFP) yang menyatakan seorang WNA laki-laki berinisial KE (60) yang berdomisili di Jakarta Pusat berkontak erat dengan korban.

Baca Juga

"Ia merupakan kontak erat dari kasus kedua (perempuan 69 tahun, meninggal) dan sempat satu penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg. Kondisi KE tidak bergejala, tetapi memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol dan riwayat vaping (rokok elektrik). Namun berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif Hantavirus," katanya.

Saat ini pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat. KE masih berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

Ia menambahkan Kemenkes telah merespons cepat kasus pada 8 Mei 2026 pukul 10.00 WIB dan langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, pelacakan riwayat perjalanan, hingga pemeriksaan kesehatan. "Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak notifikasi, investigasi sudah dilakukan. Kondisi pasien sehat dan tidak ada gejala yang mengkhawatirkan, pengamatan terus dilakukan agar pasien bisa kembali ke kediamannya untuk pencegahan lebih lanjut," ucap Andi.

Ia menegaskan petugas di Puskesmas Kecamatan Senen juga akan memantau secara berkelanjutan terkait pasien yang berkontak erat tersebut. "Sesuai ketentuan isolasi kontak erat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), harus dilakukan karantina dan monitoring aktif setiap hari, sebaiknya kontak erat bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan melaporkan ke petugas kesehatan jika ada gejala," tuturnya.

Andi juga menyatakan agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat dalam klaster global berdasarkan laporan WHO, tiga orang meninggal dari kasus di kapal pesiar tersebut, dengan tingkat fatalitas atau case fatality rate 37,5 persen.

Kasus penularan Hantavirus bermula dari klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar lintas Atlantik dan Afrika. Virus yang teridentifikasi adalah Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes, yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menular melalui paparan rodensia.

Meski demikian Indonesia sejauh ini belum pernah melaporkan kasus HPS dan hanya mencatat infeksi Hantavirus tipe Haemorhaggic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991. Kemenkes juga menyatakan di Indonesia belum ada kasus penularan dari tikus ke manusia hingga saat ini.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement