Selasa 09 Jun 2026 14:08 WIB

2,3 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi, Dokter Ungkap Risikonya

Menurut dokter, banyak penyakit dapat dicegah melalui imunisasi.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Dokter memeriksa seorang anak sebelum disuntik vaksin campak  di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bekerja sama dengan Rumah Vaksinasi Pusat menyelenggarakan vaksinasi massal campak gratis bagi anak usia 9 hingga 59 bulan sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan anak Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus campak pada anak menunjukkan peningkatan yang perlu menjadi perhatian bersama, terlebih menjelang libur panjang Hari Raya Idulfitri yang biasanya diiringi dengan tingginya mobilitas masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk segera melengkapi imunisasi campak (MR) pada anak yang masih sehat sebagai langkah perlindungan optimal.
Foto: Republika/Prayogi
Dokter memeriksa seorang anak sebelum disuntik vaksin campak di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bekerja sama dengan Rumah Vaksinasi Pusat menyelenggarakan vaksinasi massal campak gratis bagi anak usia 9 hingga 59 bulan sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan anak Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus campak pada anak menunjukkan peningkatan yang perlu menjadi perhatian bersama, terlebih menjelang libur panjang Hari Raya Idulfitri yang biasanya diiringi dengan tingginya mobilitas masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk segera melengkapi imunisasi campak (MR) pada anak yang masih sehat sebagai langkah perlindungan optimal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2025, sekitar 2,3 juta anak di Indonesia tercatat belum memperoleh imunisasi. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah anak zero-dose tertinggi di dunia.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit infeksi. Padahal, penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.

Baca Juga

Dokter spesialis anak sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Bambang Edi Susyanto, mengatakan data ini tidak boleh dianggap masalah sepele dan harus menjadi perhatian. Pasalnya, anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar bisa berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembangnya.

"Indonesia berada pada peringkat keenam dunia dalam jumlah anak zero-dose. Yang dimaksud anak zero-dose adalah anak yang hingga usia sekitar satu tahun belum memperoleh imunisasi sesuai dengan usianya. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan karena dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang anak," kata dr Bambang dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (6/6/2026).

Menurut Bambang, imunisasi merupakan intervensi kesehatan yang paling efektif. Imunisasi berguna untuk mencegah berbagai penyakit menular berbahaya. Ketika seorang anak tidak memperoleh perlindungan, risiko terpapar penyakit infeksi akan meningkat. Kondisi ini dapat berujung pada komplikasi serius hingga kematian.

"Banyak penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun, ketika banyak anak yang terlewat imunisasinya, risikonya menjadi sangat besar. Misalnya imunisasi BCG yang bertujuan mencegah tuberkulosis berat, serta imunisasi DPT untuk mencegah difteri, pertusis, dan tetanus. Penyakit-penyakit tersebut bukan penyakit ringan karena dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa," kata dia.

 

L

Berita Lainnya

Rekomendasi