REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mata juling atau strabismus tidak hanya disebabkan oleh faktor genetik. Kondisi ini juga dapat muncul pada orang dewasa akibat penyakit penyerta, kecelakaan, hingga gangguan pada saraf.
Dokter spesialis mata konsultan pediatric ophthalmology & strabismus Dr dr Lely Retno Wulandari, mengatakan sejumlah penyakit seperti diabetes melitus, penyakit tiroid, dan hipertensi dapat berkaitan dengan munculnya strabismus pada orang dewasa. Selain penyakit sistemik, strabismus juga dapat terjadi setelah trauma, misalnya kecelakaan.
Menurut dia, penyakit hingga kecelakaan tertentu dapat memengaruhi sistem saraf yang mengatur pergerakan mata. Akibatnya, posisi bola mata dapat terganggu, bergantung pada bagian otak atau sistem penggerak mata yang mengalami gangguan.
"Jadi mata juling itu juga bisa terjadi ketika dewasa. Jika memiliki penyakit-penyakit penyerta lain misal ada diabetes, tiroid, hipertensi itu bisa mempengaruhi sedemikian rupa kondisi otak manusia, sehingga terjadi kedudukan bola mata tergganggu tergantung lokasi mana ada gangguan di otaknya," kata dr Lely dalam diskusi media yang diinisiasi Jakarta Eye Center (JEC) di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Karena itu, menurut dr Lely, munculnya mata juling pada usia dewasa perlu mendapat perhatian dan tidak semata-mata dianggap sebagai masalah penampilan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya, termasuk kemungkinan adanya penyakit penyerta.
"Mata juling yang baru muncul saat dewasa perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya," kata dia.
Sementara itu pada anak, mata juling juga tidak selalu mudah dikenali. Salah satunya adalah strabismus tersembunyi atau latent strabismus, ketika posisì mata terlihat normal saat anak fokus, tetapi tampak bergeser ketika anak lelah atau terlihat melalui foto dan rekaman video.
Dokter Lely menjelaskan, pada bayi usia sekitar tiga hingga empat bulan, koordinasi kedua mata terkadang belum sempurna karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, jika mata tetap tidak sejajar setelah usia empat bulan, kondisi tersebut umumnya tidak membaik dengan sendirinya.
Menurut dia, strabismus yang tidak ditangani dapat memengaruhi kemampuan penglihatan tiga dimensi dan persepsi jarak. Pada anak, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas, terutama ketika terjadi pada masa perkembangan penglihatan.
"Orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan," kata dr Lely.