REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Singapura mengisolasi dan melakukan tes terhadap dua warganya yang berada di atas kapal pesiar yang terkait dengan wabah mematikan hantavirus. Hal itu disampaikan Badan Penyakit Menular Singapura (Communicable Diseases Agency/CDA).
Dikutip dari Reuters, Jumat (8/5/2026), negara-negara di dunia kini melacak para penumpang kapal yang terdampak virus tersebut guna mencegah penyebaran lebih lanjut hantavirus. Tiga orang, yakni pasangan asal Belanda dan seorang warga Jerman, meninggal dunia dalam wabah di kapal MV Hondius. Sementara itu, delapan orang lainnya diyakini telah terinfeksi virus tersebut.
Hantavirus umumnya menyebar melalui hewan pengerat. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, virus ini juga dapat menular dari manusia ke manusia.
Dua warga Singapura yang diperiksa tersebut adalah pria berusia 67 tahun dan 65 tahun. Keduanya kini diisolasi di National Centre for Infectious Diseases.
Mereka berada di atas MV Hondius ketika kapal itu berangkat dari pelabuhan Ushuaia di Argentina pada 1 April lalu, kata CDA dalam pernyataannya. “Salah satu mengalami pilek tetapi dalam kondisi baik, sementara yang lainnya tidak menunjukkan gejala. Risiko bagi masyarakat umum di Singapura saat ini rendah,” ujar CDA.
Jika hasil tes menunjukkan negatif hantavirus, kedua pria tersebut akan menjalani karantina selama 30 hari sejak tanggal terakhir paparan. Namun, bila hasilnya positif, mereka akan tetap dirawat di rumah sakit untuk pemantauan dan pengobatan.
Keduanya diketahui telah turun dari kapal dan juga berada dalam penerbangan yang sama dengan satu kasus hantavirus terkonfirmasi dari St Helena menuju Johannesburg pada 25 April lalu. Pasien yang terkonfirmasi tersebut tidak melakukan perjalanan ke Singapura dan telah meninggal dunia di Afrika Selatan.