REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hantavirus menjadi sorotan setelah virus tersebut diduga mewabah di kapal pesiar mewah MV Hondius. Perjalanan dari Ushuaia, Argentina selatan, menuju Cape Verde di lepas pantai Afrika Barat, berubah menjadi peristiwa darurat medis setelah tiga penumpang tewas dan beberapa lainnya kritis diduga terpapar hantavirus.
Virus yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus ini bukanlah penyakit baru, namun sudah eksis sejak ribuan tahun lalu. Berdasarkan penelitian Association of Military Surgeons of the US (AMSUS), sindrom klinis yang mungkin disebabkan oleh hantavirus telah tercatat di China sejak milenium pertama yakni periode 1 Masehi hingga 1000 Masehi.
Penyakit Hantavirus juga pernah diusulkan sebagai kemungkinan penyebab endemi neftiris parit pada tahun 1914-1918 selama Perang Dunia I. Namun setelah diteliti lebih lanjut, neftiris parit kemungkinan besar bukan disebabkan oleh hantavirus.
Penyakit ini kemudian pernah diamati pada tentara Jepang dan Rusia di perbatasan Manchuria dan Uni Soviet pada 1932. Studi klinis kala itu menyimpulkan penyakit tersebut sebagai infeksi virus. Akan tetapi pada masa itu, peneliti belum menemukan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh hewan pengerat atau Hantavirus.
Pada 1951 hingga 1954, virus misterius menyebar di antara tentara PBB yang bertempur dalam Perang Korea. Virus tersebut menewaskan ratusan orang dan menginfeksi sekitar 3.200 personel. Para tentara yang bertugas di garis depan tiba-tiba mengalami gejala berat seperti sakit kepala hebat, demam dan menggigil, kehilangan nafsu makan, muntah, pendarahan yang tidak terkendali, serta gangguan pada jantung dan ginjal.
Pada saat itu, penyebab penyakit tersebut belum diketahui. Baru pada tahun 1978, para peneliti berhasil menemukan virus penyebabnya pada seekor tikus lapangan yang hidup di dekat Sungai Hantan di Korea Selatan. Dari temuan inilah nama "Hantavirus" kemudian digunakan, demikian seperti dilansir laman Telegraph, Selasa (5/5/2026).
Penelitian lebih lanjut mengungkapkan para tentara kemungkinan besar terpapar virus melalui debu yang berasal dari kotoran dan urine tikus yang telah mengering. Kondisi ini umum terjadi ketika mereka tinggal dan bermanuver di area terbuka selama operasi militer.