Kamis 16 Apr 2026 15:15 WIB

Working Memory Anak Bisa Terganggu Akibat Anemia, Ini Faktanya

Rendahnya kadar hemoglobin berkaitan dengan performa working memory.

Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH (dua kanan) menjawab pertanyaan dalam acara penyampaian hasil studi IHDC di Jakarta, Rabu (15/4/2026). IHDC, sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah. Dari hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini. Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.
Foto: Republika/Prayogi
Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH (dua kanan) menjawab pertanyaan dalam acara penyampaian hasil studi IHDC di Jakarta, Rabu (15/4/2026). IHDC, sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah. Dari hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini. Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak-anak Indonesia masih belum lepas dari bayang-bayang kekurangan gizi. Data Indonesia Health Development Center (IHDC), organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, anak usia sekolah dasar di Indonesia masih banyak yang mengalami Anemia Defisiensi Besi (ADB). Prevalensi yang diperkirakan mencapai 20–40 persen.

Padahal menurut penelitian, ADB berisiko mengganggu fungsi kognitif anak, termasuk working memory. Apakah working memory? Ini adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, pemahaman, serta kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas belajar sehari-hari.

Baca Juga

Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek, SpM(K), data yang mereka peroleh merupakan hasil studi berbasis data lokal. Studi ini dilakukan melalui skrining pada anak sekolah dasar di Jakarta yang melibatkan sekitar 335 siswa, untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kemampuan kognitif anak.

“Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan,” ujar Nila, Rabu (15/4/2026).

Studi IHDC menunjukkan sekitar satu dari lima anak (19,7 persen) mengalami anemia, sementara 22,1 persen mengalami kesulitan dalam working memory. Studi ini juga menemukan kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan dengan performa working memory yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar.

Hal ini dipertegas oleh Executive Director IHDC, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory. “Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory," katanya.

Dr Ray menjelaskan lebih lanjut, orang tua bisa melihat baiknya working memory anak dari beberapa hal. "Working memory keliatan salah satunya ketika anak belajar dia bisa berkonsentrasi, kalau lihat guru jelasin dia nangkap nggak, working memory anak bagus saat guru menjelaskan anak bisa menjawab dan menangkap infonya," kata Dr Ray.

Working memory tidak hanya penting di saat usia sekolah. Sejak usia pendidikan dini, anak dengan working memory baik salah satunya adalah mampu berkomunikasi dua arah dengan orang lain. Dr Ray mengatakan, sangat penting bagi anak di usia golden period atau 1.000 hari pertama memiliki working memory yang baik.

IHDC juga menemukan asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Dari sisi asupan gizi, anak dengan anemia juga cenderung memiliki asupan protein yang lebih rendah. Yakni hanya sekitar 46 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan.

Ketika ditanya apakah ADB lebih banyak mempengaruhi anak perempuan dibanding laki-laki, Dr Ray menjawab sama saja. Kekurangan protein yang menyebabkan ADB terjadi di anak perempuan dan laki-laki dengan tidak ada kecenderungan di satu gender saja pada usia sekolah dasar.

Masalah anemia, lanjut Dr Ray, sebenarnya merupakan isu klasik di Indonesia. Hal ini sudah terjadi sejak era Majapahit.

Di naskah Jawa kuno misalnya sudah ditemukan terminologi anak gadis pucat atau penyakit pandu kurang getih. Keduanya berdasarkan penelitian antropologi adalah anemia.

"Ini warisan yang harus kita bereskan bareng. Karena memang secara kultural bangsa Indonesia tidak cukup asupan proteinnya di menu makanannya. Karena anemia defisiensi besi dampaknya bersifat jangka panjang termasuk sebabkan anak bisa gampang ansietas," tuturnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement