Kamis 16 Apr 2026 09:46 WIB

Angka Kematian Ibu Masih Tinggi, Deteksi Dini Berbasis Rumah Jadi Kunci

Risiko kematian janin dan ibu hamil bisa ditekan dengan adanya deteksi dini

Deteksi dini kesehatan janin dan ibu hamil
Foto: IDE
Deteksi dini kesehatan janin dan ibu hamil

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi persoalan serius yang belum teratasi. Dengan sekitar 140 kematian per 100 ribu kelahiran hidup, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.

Tingginya angka tersebut tidak lepas dari persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan, terutama di wilayah terpencil. Banyak ibu hamil harus menempuh jarak jauh untuk pemeriksaan, menghadapi antrean panjang di puskesmas, hingga minimnya tenaga kesehatan di tingkat desa.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan ibu bukan semata soal fasilitas, tetapi juga keterlambatan deteksi dan penanganan.

Sejumlah inovasi teknologi mulai diarahkan untuk menjawab persoalan tersebut, salah satunya melalui pendekatan deteksi dini berbasis rumah tangga. Perangkat pemantauan janin mandiri memungkinkan ibu hamil melakukan pemeriksaan dari rumah, dengan data yang terhubung langsung ke tenaga kesehatan.

Jika terdeteksi adanya anomali, intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat. Pendekatan ini dinilai mampu menekan risiko keterlambatan yang selama ini menjadi faktor utama kematian ibu dan bayi.

Pengembangan teknologi ini dilakukan melalui proyek riset ULTRALIGHT, kolaborasi tujuh institusi dari Indonesia dan Australia, di antaranya Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, Rumah Sakit Hasan Sadikin, serta University of Newcastle.

Penelitian dilakukan di wilayah dengan kerentanan tinggi seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga komunitas imigran pengungsi di Australia.

Peneliti utama proyek ULTRALIGHT, Restuning Widiasih, menyebut tantangan utama bukan hanya pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku.

“Ada kultur ibu hamil yang terbiasa dilayani. Ketika diminta menggunakan alat secara mandiri di rumah, sebagian merasa ragu,” ujarnya dalam forum IDE Katadata Future Forum 2026 di Djakarta Theatre, Rabu (15/4/2026).

Menurut dia, selama ini sistem kesehatan masih menempatkan ibu hamil sebagai penerima layanan pasif. Karena itu, pergeseran menuju pemantauan mandiri membutuhkan pendekatan sosial yang lebih kuat.

Di sisi lain, penggunaan teknologi justru mendorong keterlibatan keluarga, terutama suami, dalam memantau kondisi kehamilan.

Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia, Randy Teguh, menilai inovasi semacam ini memiliki peluang masuk dalam sistem pengadaan pemerintah karena efisiensi yang ditawarkan.

Namun ia mengingatkan, harga yang terjangkau tidak selalu menjamin adopsi pasar. Pengalaman sebelumnya menunjukkan inovasi serupa pernah dikembangkan di dalam negeri, namun tidak berkembang optimal.

“Momentumnya sekarang berbeda,” kata Randy.

Ia menilai kebijakan kesehatan nasional yang semakin fokus pada penurunan angka kematian ibu menjadi peluang bagi inovasi deteksi dini untuk diintegrasikan lebih luas.

Meski demikian, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Integrasi dengan sistem kesehatan, kesiapan infrastruktur digital, serta kapasitas tenaga kesehatan tetap menjadi faktor penentu.

Pendekatan deteksi dini berbasis rumah tangga dinilai dapat menggeser paradigma layanan kesehatan dari yang sebelumnya menunggu menjadi lebih antisipatif.

Pada akhirnya, upaya menekan angka kematian ibu membutuhkan kombinasi antara inovasi, sistem yang kuat, serta penerimaan masyarakat. Tanpa itu, teknologi berisiko berhenti sebagai proyek percontohan.

Namun jika dijalankan secara konsisten, pendekatan ini berpotensi memperpendek jarak antara rumah dan layanan kesehatan dan pada saat yang sama, menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement