Rabu 08 Apr 2026 14:44 WIB

Hemat di Dapur, Nggak Hemat Gizi… Ini Cara Ngakalinnya

Cerdas memilih bahan pangan bisa membantu keluarga berhemat.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari
Pedagang sayur melayani pembelian di Tebet Barat, Jakarta, Senin (9/2/2026). Menurut pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tersebut menjelang bulan suci Ramadan mengalami kenaikan. Di antaranya, harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000 per kilogram dan tomat menjadi Rp24.000 per kilogram, sementara harga bawang merah dan bawang putih belum mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, harga sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung, hingga buncis juga mengalami kenaikan rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000, yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang sayur melayani pembelian di Tebet Barat, Jakarta, Senin (9/2/2026). Menurut pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tersebut menjelang bulan suci Ramadan mengalami kenaikan. Di antaranya, harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000 per kilogram dan tomat menjadi Rp24.000 per kilogram, sementara harga bawang merah dan bawang putih belum mengalami kenaikan signifikan. Selain itu, harga sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung, hingga buncis juga mengalami kenaikan rata-rata Rp1.000 hingga Rp2.000, yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga kebutuhan pokok (sembako) hingga plastik yang mengalami kenaikan mendorong keluarga untuk lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, khususnya agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Guru besar Ilmu Gizi IPB University, Prof Hardinsyah, menekankan pentingnya pengelolaan belanja atau keuangan rumah tangga yang terencana dan terukur.

la mengatakan, ibu dan ayah atau kepala keluarga perlu memahami komponen belanja secara rinci, baik harian, pekanan, maupun bulanan. Hal ini penting agar keluarga dapat mengidentifikasi pengeluaran yang bisa dikurangi atau dihemat.

Baca Juga

"Perlu didiskusikan komponen pengeluaran keluarga mana yang bisa ditekan, seperti jajanan, minuman kemasan, permen, kosmetik, pakaian, pulsa, listrik, hingga transportasi atau perjalanan," kata Prof Hardinsyah saat dihubungi Republika, Rabu (8/4/2026).

la juga menyarankan keluarga untuk mengalihkan konsumsi bahan makanan ke pilihan yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan nilai gizi. Prof Hardinsyah mencontohkan, jika sebelumnya konsumsi daging ayam dilakukan dua kali dalam sepekan, frekuensinya dapat dikurangi menjadi satu hingga dua kali dalam sebulan.

"Sebagai gantinya, keluarga bisa memilih sumber protein yang lebih murah seperti telur, tahu, tempe, atau ikan dengan harga lebih rendah dibandingkan daging ayam per kilogram," jelas dia.

Selain itu, pembelian bumbu kemasan serta makanan dan minuman jadi juga sebaiknya dibatasi jika dinilai lebih mahal dibandingkan bahan mentah. "Ini juga penting, apalagi meracik bumbu sendiri kandungan gizinya sangat baik," kata dia.

Prof Hardinsyah juga menegaskan langkah paling efektif untuk mencegah penurunan kualitas gizi di tengah kenaikan harga pangan adalah meningkatkan literasi masyarakat terkait gizi. Menurut dia, pemahaman yang cukup akan membantu masyarakat memilih dan mengolah bahan pangan bergizi sesuai kemampuan finansial masing-masing.

"Dengan literasi gizi yang baik, keluarga diharapkan mampu memilih bahan makanan yang tetap bergizi namun lebih ekonomis, sehingga kebutuhan gizi seimbang tetap terpenuhi meski anggaran terbatas," kata Prof Hardinsyah.

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement