Rabu 06 May 2026 10:17 WIB

Dokter Peringatkan Risiko Konsumsi Protein Berlebih

Pola makan yang tidak seimbang dapat memengaruhi kinerja ginjal.

Protein maxxing sedang populer di masyarakat, namun tetap harus diimbangi dengan asupan sayur dan buah.
Foto: Dok Republika
Protein maxxing sedang populer di masyarakat, namun tetap harus diimbangi dengan asupan sayur dan buah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tren konsumsi protein tinggi atau protein maxxing kian populer di kalangan masyarakat. Namun, pakar kesehatan mengingatkan bahwa asupan protein berlebih, khususnya dari sumber hewani, dapat berdampak negatif bagi tubuh, terutama pada fungsi ginjal.

Koresponden medis utama ABC News, dikutip Rabu (6/5/2026), Tara Narula, menjelaskan bahwa ginjal memiliki peran penting sebagai penyaring darah dan pembuang limbah melalui urine. Pola makan yang tidak seimbang dapat memengaruhi kinerja organ tersebut.

Baca Juga

Menurut dia, salah satu risiko dari konsumsi protein hewani berlebihan adalah terbentuknya batu ginjal, khususnya jenis asam urat. Batu ini berasal dari purin, yakni hasil pemecahan protein hewani dalam tubuh.

“Jika seseorang menjalani pola makan tinggi daging seperti daging sapi, ayam, atau makanan laut, maka tubuh berpotensi menghasilkan lebih banyak asam urat yang dalam kondisi tertentu dapat mengkristal dan membentuk batu ginjal,” ujar Narula.

Batu ginjal diketahui dapat menimbulkan gejala seperti nyeri hebat di salah satu sisi tubuh, demam, menggigil, mual, hingga gangguan pada fungsi ginjal.

Berdasarkan rekomendasi American Heart Association, kebutuhan protein harian untuk orang dewasa adalah sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan, atau sekitar 10 hingga 35 persen dari total kalori harian. Narula menekankan bahwa konsumsi protein dalam jumlah wajar, seperti dari satu porsi ayam atau yogurt, umumnya tidak menimbulkan masalah.

Risiko muncul ketika asupan protein mencapai dua hingga tiga kali lipat dari rekomendasi. Terutama jika tidak diimbangi dengan konsumsi air, buah, dan sayuran.

“Yang perlu diwaspadai adalah ketika konsumsi protein mencapai sekitar 200 gram atau lebih per hari, tanpa keseimbangan nutrisi lain,” katanya.

Sebagai solusi, Narula menyarankan masyarakat untuk menyeimbangkan pola makan dengan menambahkan sumber protein nabati, seperti kacang-kacangan, polong-polongan, tahu, dan kedelai. Langkah ini dinilai dapat membantu mengurangi risiko kesehatan akibat konsumsi protein hewani berlebih, sekaligus menjaga keseimbangan nutrisi dalam tubuh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement