Jumat 27 Feb 2026 06:50 WIB

Tren Pinjol Meningkat Selama Ramadhan, Dipengaruhi Rasa FOMO?

Dalam 2 tahun berturut-turut, pinjol selama Ramadhan didominasi kebutuhan konsumtif.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Wanita melakukan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan konsumtif. (ilustrasi)
Foto: Dok. Freepik
Wanita melakukan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan konsumtif. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyaluran pinjaman online (pinjol) tercatat meningkat selama bulan Ramadhan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tren kenaikan pinjol terjadi dalam dua tahun berturut-turut, yaitu pada Ramadhan 2024 dan 2025, dengan penyaluran yang masih didominasi pendanaan konsumtif.

Pakar ekonomi syariah IPB University, Dr Ranti Wiliasih, mengatakan fenomena maraknya pinjol saat Ramadhan cenderung dipengaruhi oleh rasa FOMO (fear of missing out), keinginan mengikuti tren, serta kecenderungan meniru gaya hidup orang lain. Menurutnya, Ramadhan yang identik dengan peningkatan konsumsi sering kali mendorong masyarakat meningkatkan pengeluaran. Sayangnya, tidak semua peningkatan tersebut diimbangi dengan kemampuan finansial yang memadai.

Baca Juga

"Sebagian besar pinjol digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan produktif, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (27/2/2026).

photo
Gunawan Witjaksono, selaku Rektor Cyber University mengatakan, mudahnya mendapat uang dari pinjol, bisa mengatasi masalah finansial secara cepat. Namun hal itu jadi masalah baru bagi Guru dan menambah beban dari Guru. Kemampuan mengelola keuangan sangat penting, Guru juga harus memahami risiko dan persyaratan pinjaman online. - (dok Cyber University)

 

Ranti menyebut pinjaman untuk kebutuhan konsumtif seharusnya dihindari. Pinjaman hanya layak dipertimbangkan dalam kondisi mendesak, seperti kebutuhan medis, musibah, atau bencana.

la menjelaskan, pinjol yang awalnya dianggap sebagai solusi cepat justru bisa menjadi sumber persoalan baru ketika peminjam tidak mampu melunasi kewajiban tepat waktu. Apalagi, kebutuhan hidup lain yang lebih mendesak sering kali muncul di tengah masa pelunasan.

"Masalah semakin bertambah ketika bunga pinjaman meningkat, sehingga utang semakin membengkak," kata Ranti.

Selain beban bunga, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah praktik penagihan yang tidak etis, seperti pencemaran nama baik, penyebaran data pribadi, hingga teror kepada peminjam maupun kerabatnya. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga kesehatan mental.

Ranti juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial masing-masing, "Jangan malu jika gaya hidup kita berbeda dari orang lain. Justru mestinya malu jika berutang untuk hal-hal tidak penting hanya karena ingin terlihat keren," kata dia.

Bagi masyarakat yang sudah terlanjur terjebak pinjol, ia menyarankan mencari alternatif pinjaman tanpa bunga dengan jangka waktu pelunasan yang lebih panjang untuk menutup utang pinjol tersebut. "Pinjaman talangan ini bisa meringankan beban dan memberi ketenangan sementara, karena tejebak pinjol dapat sangat mengganggu dan merusak kesehatan mental," ujar Ranti.

la mengajak masyarakat untuk membiasakan hidup sesuai kemampuan agar keuangan tetap sehat dan hati lebih tenang. "Karena hanya dengan ketenangan kita akan selalu bersyukur kepada Allah SWT," kata Ranti.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement