Sabtu 28 Feb 2026 08:59 WIB

Tragedi Pembacokan di UIN Suska Riau, Saat Harapan Skripsi Terhenti oleh Sabetan Kapak Buta

Kasus ini dinilai menjadi alarm keras atas matinya rasa aman di institusi akademik.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Ilustrasi kekerasan. Menurut psikolog, pada usia remaja akhir menuju dewasa awal, banyak yang belum mampu melihat persoalan secara rasional.
Foto: Republika/Daan Yahya
Ilustrasi kekerasan. Menurut psikolog, pada usia remaja akhir menuju dewasa awal, banyak yang belum mampu melihat persoalan secara rasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau, Farradila Ayu menjadi korban pembacokan sesama mahasiswa saat menunggu jadwal seminar proposal skripsinya pada Kamis (26/2/2026). Pelaku yang merupakan sesama mahasiswa berinisial R melakukan aksi tersebut karena diduga sakit hati oleh korban.

Guru besar psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, menilai kasus ini mencerminkan cara berpikir remaja yang belum matang. Menurut dia, pada usia remaja akhir menuju dewasa awal, banyak yang belum mampu melihat persoalan secara rasional.

Baca Juga

"Maka ketika seseorang tidak rasional, maka mereka akan berpikir kalau tidak mendapatkan orang yang disukai atau gagal dalam hal apapun, itu seperti akhir dari semuanya," kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata-mata soal cinta, melainkan keterbatasan keterampilan hidup (life skill) dalam menghadapi masalah dan konflik. Remaja yang tidak memiliki kemampuan menganalisis persoalan cenderung melihat situasi secara sempit dan hanya memikirkan satu jalan keluar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

"Ketika satu-satunya jalan yang dia pikirkan tidak tercapai, ujungnya bisa pada tindakan kekerasan, menyakiti orang lain, bahkan menyakiti diri sendiri," ujar Prof Rose.

Agar bisa legawa ketika gagal atau menerima penolakan, Prof Rose menekankan pentingnya belajar membangun kemampuan life skill. Menurutnya, setiap individu perlu dilatih untuk mampu menganalisis persoalan secara jernih, mengidentifikasi letak masalah, serta mencari lebih dari satu alternatif solusi.

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement